Antrean Hingga 2026, Dendeng Batokok Jaso Mande Ciputat Jadi Buruan

- Kamis, 22 Januari 2026 | 10:06 WIB
Antrean Hingga 2026, Dendeng Batokok Jaso Mande Ciputat Jadi Buruan

Di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, ada satu nama yang terus disebut-sebut para penggemar kuliner: Rumah Makan Padang Jaso Mande. Tempat ini jadi viral, dan penyebabnya tak lain adalah sepiring dendeng batokok yang konon bikin orang rela antre pesanan hingga berbulan-bulan lamanya.

Sejak meledak di media sosial sekitar setahun silam, popularitas Jaso Mande benar-benar melesat. Imbasnya, permintaan untuk dendeng andalan mereka langsung naik berkali-kali lipat. Yang dulunya masih bisa makan di tempat, sekarang? Hanya bisa pesan lewat pre-order via WhatsApp.

Velyshia Anggun Oktavira, anak pemilik warung, mengaku antrean pesanan sudah sangat panjang.

“Tahun ini PO sudah sampai bulan Juli 2026, tapi pembeli tetap sabar menunggu sesuai antrean,” ujarnya.

Kalau ada percepatan jadwal, tim Jaso Mande akan menghubungi langsung nomor pembeli sesuai urutan. Menurut Velyshia, sistem ini mereka pertahankan bukan tanpa alasan. Selain untuk mengatur kapasitas, ini cara mereka menjaga kualitas dan kesegaran daging yang diolah setiap harinya.

Dua Varian yang Bikin Ketagihan

Untuk saat ini, dendeng batokok di Jaso Mande punya dua pilihan sambal: merah dan hijau. Harganya Rp 19 ribu per potong untuk sambal merah, dan Rp 17 ribu untuk yang hijau. Minimal pesan lima potong, dan selanjutnya harus kelipatan lima juga.

Dari dua varian itu, sambal hijau rupanya lebih banyak digemar. Dendengnya sendiri bertipe basah, dengan potongan daging yang tebal tapi empuk. Begitu masuk ke mulut, aroma bakarannya yang smoky langsung terasa. Rasa gurihnya meresap sampai ke dalam, dipadu sambal hijau khas Minang yang pedas segar dengan sentuhan asam. Kombinasi inilah yang disebut-sebut jadi rahasia kenapa banyak pelanggan jadi jatuh hati.

Keputusan beralih ke sistem PO sebenarnya terpaksa. Kapasitas warung yang terbatas sama sekali tak sanggup lagi menampung membludaknya pengunjung kalau tetap buka layanan makan di tempat.

“Pesanan sudah membeludak dan enggak ketampung. Akhirnya diputuskan buka PO supaya kualitas dan kesegaran daging tetap terjaga,” jelas Velyshia lagi.

Dalam sehari, mereka bisa menghabiskan sekitar 80 kilogram daging untuk memenuhi semua pesanan. Proses pembakarannya dilakukan di ruang khusus agar asapnya tak mengganggu warga sekitar. Mereka pakai batok kelapa, yang katanya memberi cita rasa lebih gurih dan autentik. Setelah dibakar, daging didinginkan dulu sebelum akhirnya dikemas rapi di wadah tahan panas.

Pembeli bisa ambil pesanan langsung di warungnya, atau memilih menggunakan jasa ojek online. Jaso Mande berlokasi di Perumahan Ciputat Baru, Jalan Mawar, Sawah Lama, Ciputat, Tangerang Selatan.

Menunggu berbulan-bulan memang bukan waktu yang singkat. Tapi antusiasme pelanggan sepertinya tak pernah padam. Itu mungkin bukti terbaik bahwa dendeng batokok Jaso Mande sudah punya cerita dan cita rasa sendiri yang sulit dilupakan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar