"Hutang bertumpuk dan harus berhutang dahulu sebelum membayar bunga utang,"
ujar Huda, menggambarkan potensi lingkaran yang berisiko mempersempit ruang fiskal ke depannya.
Namun begitu, pandangan pemerintah sama sekali berbeda. Mereka justru membaca proyeksi IMF itu sebagai kabar baik, sebuah bukti ketangguhan ekonomi nasional di tengah gejolak global yang tak menentu. Optimisme ini dilandasi keyakinan bahwa fundamental, stabilitas makro, dan konsistensi kebijakan masih terjaga.
Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, menegaskan hal tersebut.
"Proyeksi IMF ini menunjukkan bahwa fundamental perekonomian Indonesia tetap kuat dan terjaga, meskipun tekanan global masih cukup tinggi. Pemerintah terus memastikan kebijakan yang diambil bersifat responsif dan antisipatif guna menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi,”
jelasnya dalam keterangan resmi.
Laporan Article IV Consultation IMF sendiri menjabarkan bahwa ekonomi Indonesia dinilai resilien. Mereka mencatat, pertumbuhan diperkirakan stabil di level 5,0 persen pada 2025 dan naik tipis ke 5,1 persen di tahun berikutnya. Kinerja ini, tulis IMF, tak lepas dari dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang ada, meski tekanan eksternal tetap menjadi tantangan serius.
Jadi, di satu sisi ada sinyal kehati-hatian dari para pengamat, sementara di sisi lain pemerintah memilih fokus pada sisi positifnya. Perbedaan sudut pandang ini, seperti biasa, akan diuji oleh waktu.
Artikel Terkait
Volkswagen Pangkas 50.000 Pekerjaan Hingga 2030 Imbas Laba Anjlok
Gus Ipul Dorong 5 Juta Penerima PKH Jatim Jadi Anggota Koperasi Desa
DPR Terima Tiga Surat Presiden Prabowo Soal RUU dan Kerja Sama Kanada
DPR Sahkan Friderica Widyasari Dewi sebagai Ketua Dewan Komisioner OJK 2026-2031