Proyeksi terbaru dari International Monetary Fund (IMF) untuk ekonomi Indonesia pada 2026 ternyata tak seoptimistis harapan pemerintah. Lembaga keuangan global itu memprediksi pertumbuhan hanya akan mencapai 5,1 persen. Angka ini, meski terlihat solid, sebenarnya berada di bawah target resmi pemerintah yang tercantum dalam APBN 2026, yaitu 5,4 persen.
Nailul Huda, ekonom dari Celios, melihat angka dari IMF ini justru sebagai sinyal peringatan. Menurutnya, proyeksi yang lebih rendah ini mengindikasikan ada sesuatu yang kurang beres dengan fundamental perekonomian kita.
"Celios pun memprediksi mentok di angka 5,0 persen. Paling buruknya di angka 4,7 persen karena fundamental ekonomi kita masih lemah,"
katanya, Minggu lalu.
Kekhawatiran Huda berangkat dari kinerja APBN. Ia menilai target tahun ini berisiko tak tercapai. Pemerintah, lewat UU APBN 2026 yang sudah ditandatangani Presiden Prabowo pada Oktober 2025, mengalokasikan belanja pusat yang sangat besar, mencapai Rp3.149,47 triliun. Anggaran fantastis itu, antara lain, dialirkan ke program-program seperti Makan Bergizi Gratis.
"Saya khawatir tahun 2026, 'bensin' pemerintah habis karena penerimaan yang seret namun pengeluaran jor-joran,"
tambah Huda.
Di sisi lain, kondisi fiskal memang tampak menantang. Untuk membiayai defisit yang ditargetkan Rp689,14 triliun, pemerintah berencana menarik utang baru senilai Rp832,20 triliun. Skema ini memunculkan kekhawatiran lain.
Artikel Terkait
DPR Setujui RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga Sebagai Usulan Inisiatif
Volkswagen Pangkas 50.000 Pekerjaan Hingga 2030 Imbas Laba Anjlok
Gus Ipul Dorong 5 Juta Penerima PKH Jatim Jadi Anggota Koperasi Desa
DPR Terima Tiga Surat Presiden Prabowo Soal RUU dan Kerja Sama Kanada