Gen Z dan Gelas Kekinian: Jamu Kembali Ngetren, Bukan Cuma Buat Obat

- Minggu, 25 Januari 2026 | 21:06 WIB
Gen Z dan Gelas Kekinian: Jamu Kembali Ngetren, Bukan Cuma Buat Obat

Di sisi lain, ketertarikan pada jamu tradisional tetap hidup, bahkan dari generasi yang lebih tua. Nurul Estiruna, seorang milenial, adalah contohnya. Dia sudah akrab dengan jamu sejak kecil, dikenalkan oleh nenek dan ibunya. Hingga sekarang, dia masih rutin menikmati jamu murni di Jamu Ginggang, sebuah kedai warisan abdi dalem keraton.

Bagi Nurul, jamu adalah bagian dari kebiasaan keluarga, lebih dari sekadar minuman sehat. Meski banyak inovasi bermunculan, lidahnya sudah terlanjur setia pada yang murni.

“Saya lebih suka murni, tanpa campuran. Mungkin ini soal preferensi lidah ya, karena dari kecil sudah biasa,” ungkapnya.

Tapi Nurul sama sekali nggak menolak inovasi. Malah, ia bangga melihat anak muda mulai melirik kembali jamu. Baginya, perubahan bentuk diperlukan biar jamu tetap relevan dan nggak ditinggalkan.

Di balik semua tren ini, praktik peracikan tradisional tetap dijaga turun-temurun. Seperti Ike Yulita Estiani, peracik jamu generasi kelima di Jamu Ginggang. Ia sudah membantu keluarga sejak masih duduk di bangku SD, membersihkan bahan hingga menghaluskannya dengan alat tradisional.

Bagi Ike, jamu adalah upaya menjaga kesehatan agar nggak gampang sakit. Resep yang dipakainya turun sejak 1925, tanpa campuran bahan kimia. Proses manual yang dipertahankan itu sendiri adalah pengetahuan tak tertulis yang diwariskan.

“Yang paling penting itu resepnya. Di situlah nilai warisan budayanya,” tegas Ike.

Namun begitu, mempertahankan tradisi di zaman now tentu ada tantangannya. Ike melihat generasi muda sebagai tantangan sekaligus peluang. Ia mulai menyesuaikan bahasa promosi di media sosial, mendekatkan jamu dengan keseharian Gen Z misalnya dengan menyasar keluhan soal stres atau badan gampang lelah yang sering mereka sebut "remaja jompo".

Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan bahwa jamu sebagai warisan budaya tak benda nggak kaku. Nilainya terletak pada pengetahuan dan praktik yang terus hidup. Dari dapur tradisional ke kafe modern, dari racikan manual ke gelas kekinian, jamu menemukan caranya sendiri untuk bertahan. Ia bukan cuma untuk kesehatan tubuh, tapi juga jadi bagian dari pengetahuan budaya yang terus mengalir. Dan kini, ia mulai mendapat tempat baru di hati para penikmat muda.


Halaman:

Komentar