Lalu, apa jalan keluarnya? Di tengah pelemahan pasar ini, Indef mendorong agar fokus dialihkan. Mereka mengusulkan penguatan permintaan domestik sebagai strategi. Caranya? Dengan mendiversifikasi pemanfaatan batu bara dan meningkatkan nilai tambahnya. Proyek dimethyl ether (DME) yang digadang-gadang sebagai pengganti LPG berbasis batu bara adalah salah satu contoh. Pengembangan produk turunan lain yang bernilai lebih tinggi juga jadi kunci.
"Momentum tekanan harga ini harus dimanfaatkan," tegas Andry.
"Untuk memperkuat pasar domestik dan hilirisasi batubara."
Di sisi lain, ceritanya agak berbeda untuk komoditas mineral lain seperti nikel. Permintaan global terhadap mineral kritis ini justru relatif kuat, didorong oleh percepatan transisi energi hijau dan kebutuhan teknologi bersih. Harga nikel dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan tren naik, sebuah kontras yang mencolok dibandingkan batu bara. Andry menekankan, pengembangan hilirisasi mineral seperti nikel ini punya nilai ganda: mendukung perekonomian sekaligus menciptakan produk yang lebih ramah lingkungan.
Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian ESDM memang telah mengambil langkah. Untuk tahun 2026, produksi batu bara dalam negeri resmi dipangkas. Dari angka 790 juta ton di 2025, targetnya ditekan menjadi hanya 600 juta ton. Langkah ini jelas signifikan. Namun, bagi Indef, dinamika pasar global mungkin punya cerita lain yang akan terus mendikte arah harga.
Artikel Terkait
Gejolak Harga Minyak Ancam BBM, Pengemudi Ojol Beralih Listrik Justru Tenang
Lima Kapal Diserang dalam Dua Hari, Keamanan Jalur Vital Teluk Makin Terancam
Prabowo Serukan Penghentian Aksi Militer ke MBS, Siap Jadi Mediator
Kemkomdigi Perketat Patroli Siber untuk Tangkal Penipuan Mudik dan Hoaks Jelang Lebaran