BOJ Tahan Suku Bunga di Tengah Gejolak Pasar
Seperti yang sudah banyak ditebak, Bank Sentral Jepang (BOJ) memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga acuannya pada Jumat lalu. Keputusan ini datang di tengah suasana pasar yang sedang tidak karuan, terutama di pasar obligasi domestik, sementara negeri Sakura itu bersiap untuk pemilu parlemen bulan depan.
Ini memang momen yang cukup genting. Ingat saja, baru Desember lalu BOJ membuat gebrakan dengan menaikkan suku bunga menjadi 0,75 persen. Kenaikan itu yang tertinggi dalam tiga dekade, sekaligus sinyal kuat bahwa era suku bunga super rendah sudah berakhir. Kini, dengan memilih untuk berhenti sejenak, BOJ sepertinya ingin memberi ruang bagi perekonomian untuk menyesuaikan diri.
Tapi, apakah jeda ini cukup? Rasanya tidak juga. Kekhawatiran para investor, terutama soal utang nasional Jepang dan situasi politik yang mulai memanas, belum benar-benar terjawab.
Gejolak di pasar obligasi pekan ini jadi buktinya. Aksi jual terjadi cukup masif. Imbal hasil obligasi 40 tahun Jepang bahkan tembus 4 persen level yang terakhir kali kita lihat di tahun 2007. Obligasi 30 tahun juga ikut-ikutan mencetak rekor. Pasar jelas sedang cemas.
Artikel Terkait
Benteng Pendem Ambarawa Bangkit Setelah Revitalisasi Rp156,8 Miliar
Bareskrim Geledah Kantor DSI, Kasus Dugaan Penipuan Syariah Naik ke Penyidikan
Hujan Tak Halangi 400 Pelajar Berdebat ala Sidang PBB di Jakarta
Pramono Anung Turun Langsung, Perintahkan Tambah Pompa di Titik Banjir Daan Mogot