Harun punya alasan praktis. "Jarak antara tenda Mina dengan pos di Jamarat cukup jauh. Karena itu, petugas sudah kita tempatkan langsung di lokasi agar saat jamaah tiba, petugas sudah siap dan tenaga mereka tidak terkuras," jelasnya.
Ia menegaskan, malam pertama perpindahan jamaah dari Muzdalifah ke Mina lalu ke Jamarat adalah momen paling rentan. Potensi kepadatan dan kelelahan melonjak tinggi. Dalam kondisi seperti itu, jamaah bisa membutuhkan pertolongan dengan sangat cepat.
"Di situlah kita anggap lebih efektif jika petugas yang sudah berhaji ditempatkan langsung di pos-pos tersebut," ujarnya.
Kebijakan ini sebenarnya buah dari evaluasi bertahun-tahun. Memang, penyelenggaraan haji sebelumnya sudah berjalan cukup baik. Namun begitu, Kementerian Haji dan Umrah terus berupaya menyempurnakannya.
"Yang kemarin dirasa belum efektif, tahun ini kita efektifkan lagi, baik dari segi penempatan maupun penguatan personel di lapangan," pungkas Harun.
Artikel Terkait
IRGC Ancam Blokade Total Selat Hormuz, Harga Minyak Bisa Tembus USD 200 per Barel
Bank BJB Dorong Ekonomi Regional Lewat Event Lari 4 Kota di Jawa
Saudi Aramco Catat Laba Bersih USD 104,7 Miliar pada 2025, Lampaui Proyeksi Analis
Lebaran 2026: Lebih dari 2,5 Juta Tiket Kereta Api Terjual, Masih Tersedia 1,9 Juta Kursi