Kabut pagi masih menggantung malas di perbukitan Imogiri. Gerbang kayu tua di kompleks makam itu berderit pelan dibuka. Aroma tanah basah dan sisa kemenyan langsung menyergap, menyambut langkah-langkah pertama para peziarah. Di balik pintu, seorang lelaki bersarung lurik merapikan ikat kepalanya. Tangannya memutar kunci kuningan besar ritual harian yang sudah ia jalani puluhan tahun.
Dia adalah Bekel Jogo Sukirjo, tapi semua orang memanggilnya Ki Bandung. Sebagai juru kunci Makam Raja-Raja Imogiri, hidupnya diabdikan untuk menjaga tempat peristirahatan terakhir raja-raja Mataram ini. Bagi Ki Bandung, ini bukan cuma pekerjaan. Ini amanah turun-temurun, sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar daftar tugas.
“Pagi itu waktu paling jujur,” ucap Ki Bandung, suaranya rendah tapi jelas terdengar di keheningan yang belum tercabik.
“Sunyinya masih murni, belum diganggu hiruk-pikuk pikiran manusia. Orang yang datang di waktu begini, biasanya niatnya masih bersih, belum banyak dikotori urusan duniawi.”
Itulah kenapa ia selalu memilih membuka gerbang di pagi buta. Sebelum matahari sepenuhnya naik, ia sudah sibuk memastikan halaman bersih dan setiap peziarah paham tata caranya. Aturan berpakaian jarik dan kemben sering dianggap merepotkan oleh sebagian pengunjung. Tapi Ki Bandung punya pandangan lain.
“Datang ke tempat leluhur, ego harus diturunkan. Pakaian adat itu simbolnya. Lambang kerendahan hati,” katanya sambil mempersilakan seorang pengunjung masuk.
Perannya memang kompleks. Ia bukan penjaga pintu biasa. Ia penjaga tata krama, penjaga etika, sekaligus penjaga nuansa spiritual yang menyelimuti kompleks makam ini.
Nilai-Nilai yang Hidup di Balik Batu Nisan
Kisah Imogiri tak bisa dipisahkan dari Keraton Yogyakarta. Tempat ini, bagi banyak kalangan, adalah perpanjangan nilai-nilai keraton di luar tembok istana. Asmuri, seorang abdi dalem keraton yang kerap terlibat ritual di sini, punya penjelasan yang gamblang.
“Imogiri itu bukan tempat wisata biasa,” tegas Asmuri.
“Ini ruang budaya dan spiritual. Di sini, manusia diingatkan satu hal sederhana: setinggi apa pun derajatmu, akhirnya kembali ke tanah juga. Makanya, orang harus datang dengan sikap menunduk, bukan cuma untuk melihat-lihat.”
Setiap detail di Imogiri punya makna. Tata ruang, posisi gapura, bahkan anak tangga yang jumlahnya ratusan semuanya dirancang dengan filosofi Jawa yang dalam. Menaiki tangga itu ibarat laku hidup: butuh usaha, butuh kesabaran, dan tidak selalu mudah.
Ki Bandung sendiri kerap melihat bagaimana suasana makam menjadi cermin bagi batin pengunjung. “Orang yang datang dengan hati marah atau penuh kesombongan, biasanya tidak betah lama,” ujarnya, senyum tipis mengembang.
“Tempat ini mengajarkan dengan pelan, tanpa banyak bicara. Sebaliknya, yang hatinya tenang justru bisa duduk berjam-jam di sini.”
Menjaga Ritual di Tengah Hujan dan Angin
Ada hari-hari tertentu dimana kesibukan memuncak. Menjelang malam satu Suro, misalnya. Peziarah membanjir dari berbagai penjuru. Ki Bandung dan kawan-kawannya bekerja ekstra keras menjaga segala sesuatunya tetap khidmat dan tertib.
“Kondisi cuaca? Bukan halangan,” kata Ki Bandung tentang komitmennya.
Artikel Terkait
Hujan Deras Pagi Ini, Gatot Subroto Tersendat Macet dan Kabut
Prabowo Godok Rencana 10 Kampus Baru Bersama Universitas Top Inggris
Jakarta Tenggelam Lagi, Polisi Jadi Penyeberang Anak Sekolah
Antrean Hingga 2026, Dendeng Batokok Jaso Mande Ciputat Jadi Buruan