Calon Komisioner OJK Targetkan Kapitalisasi Pasar Modal Rp25.000 Triliun pada 2031

- Rabu, 11 Maret 2026 | 16:45 WIB
Calon Komisioner OJK Targetkan Kapitalisasi Pasar Modal Rp25.000 Triliun pada 2031

Jakarta – Di hadapan anggota Komisi XI DPR RI, Rabu (11/3/2026), calon anggota Dewan Komisioner OJK Hasan Fawzi mengungkapkan target yang cukup ambisius. Ia memproyeksikan kapitalisasi pasar modal Indonesia bakal melesat hingga Rp25.000 triliun pada 2031. Angka itu setara dengan sekitar 80% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Target tersebut ia sampaikan dalam uji kelayakan dan kepatutan di Kompleks Parlemen. Menurut Hasan, ini adalah bagian dari proyeksi kinerja strategis pasar modal untuk lima tahun ke depan. “Sebagai arah penerapan visi, kami menetapkan proyeksi hingga 2031. Kapitalisasi pasar ditargetkan mencapai Rp25.000 triliun, atau sekitar 80% dari PDB,” jelasnya.

Tak cuma soal kapitalisasi, ada dua target lain yang ia sebutkan. Jumlah investor pasar modal diharapkan membengkak jadi 30 juta orang. Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian ditargetkan menyentuh angka Rp35 triliun pada tahun yang sama.

Namun begitu, untuk mencapai semua itu, Hasan menekankan bahwa ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan: reformasi integritas pasar. Baginya, integritas adalah fondasi utama. Tanpa itu, kepercayaan investor sulit dijaga dan peran pasar sebagai mesin pembiayaan pembangunan nasional tak akan optimal.

“Integritas pasar modal merupakan fondasi utama dalam menjaga stabilitas,” ujarnya tegas.

Memang, kinerja pasar belakangan ini terlihat positif. Jumlah investor bertambah, nilai transaksi harian sempat cetak rekor, kapitalisasi pun tumbuh. Tapi di balik itu, masih ada segudang tantangan struktural yang mengganjal.

Hasan tak menampiknya. Ia menyebut beberapa persoalan klasik masih terjadi. Mulai dari praktik manipulasi harga saham, perdagangan yang terkoordinasi, sampai maraknya penggunaan rekening nominee. Belum lagi soal literasi investor yang dinilainya masih rendah.

Di sisi lain, sektor-seperti derivatif dan bursa karbon juga menghadapi kendala. Produk yang tersedia masih terbatas, partisipasi pelaku pasarnya pun belum maksimal.

Untuk menjawab semua tantangan itu, Hasan memperkenalkan sebuah kerangka strategis bernama “Integralitas”. Kerangka ini punya delapan rencana aksi yang dikelompokkan dalam lima klaster: integrasi, granularitas, likuiditas, transparansi, dan akuntabilitas.

Secara konkret, langkah reformasinya akan mencakup banyak hal. Misalnya, memperkuat koordinasi antar lembaga, mengembangkan data kepemilikan saham yang lebih rinci, hingga menaikkan batas minimal saham beredar di publik (free float) menjadi 15 persen. Tata kelola emiten juga akan diperketat.

Yang menarik, rencana reformasi ini juga menyasar transparansi kepemilikan dan persiapan demutualisasi bursa. Tujuannya jelas: meningkatkan akuntabilitas.

Menurut Hasan, beberapa langkah awal sudah mulai dijalankan sejak Maret 2026. Publikasi struktur kepemilikan saham di atas satu persen, penyempurnaan klasifikasi investor, hingga pembentukan satgas khusus untuk mengawal reformasi integritas pasar, sudah digulirkan.

Ia meyakini, kombinasi strategi integralitas dengan empat pilar pendukung penguatan kelembagaan OJK, peningkatan SDM, pembangunan infrastruktur, dan dukungan anggaran akan membawa transformasi.

“Kombinasi ini akan membentuk arsitektur transformasi sektor pasar modal yang kredibel, modern, dan berdaya saing global,” pungkasnya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar