Polda Metro Jaya Alihkan Lokasi Demo Mahasiswa dari Bundaran HI ke Patung Kuda

- Jumat, 12 Juni 2026 | 12:35 WIB
Polda Metro Jaya Alihkan Lokasi Demo Mahasiswa dari Bundaran HI ke Patung Kuda

Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya tengah berupaya mengalihkan lokasi demonstrasi mahasiswa yang semula direncanakan di Bundaran Hotel Indonesia (HI) ke kawasan Patung Kuda atau kompleks Gedung DPR/MPR RI. Langkah ini diambil dengan pertimbangan bahwa kawasan Bundaran HI merupakan pusat kegiatan perekonomian dan aktivitas masyarakat yang tidak sesuai untuk penyampaian aspirasi.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menyatakan bahwa koordinasi intensif tengah dilakukan melalui Direktorat Intelijen untuk merealisasikan pengalihan titik tersebut. “Iya, memang kita ketahui bahwa seputaran Bundaran HI itu bukan merupakan tempat yang untuk menyampaikan aspirasi. Karena memang ada kegiatan-kegiatan perekonomian, kegiatan-kegiatan masyarakat lainnya. Sehingga kita sama-sama memaklumi, memahami untuk saling menghormati,” ujarnya di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (12/6/2026).

Menurut Budi, pengalihan lokasi ke Patung Kuda atau DPR/MPR RI diharapkan dapat memastikan aspirasi mahasiswa tetap tersalurkan secara optimal dan sesuai dengan koridor hukum. “Dan kami juga dari Direktorat Intelijen sudah berkomunikasi untuk mengalihkan titik tadi di Bundaran HI bisa di sekitar Patung Kuda ataupun di depan DPR MPR. Sehingga aspirasinya juga tersampaikan dengan baik dan ini juga dilindungi oleh undang-undang,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Budi menambahkan harapannya agar seluruh rangkaian pengamanan dan pelayanan berjalan lancar. “Sekali lagi terima kasih, kita sama-sama berdoa untuk kegiatan pengamanan, pelayanan, penyampaian pendapat ini dapat berjalan aman, tertib, dan dapat dikendalikan,” sambungnya.

Untuk mengamankan jalannya aksi, Polda Metro Jaya mengerahkan 6.088 personel gabungan dari Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Rinciannya meliputi 500 personel TNI, 1.000 personel Korps Brimob, 200 personel Bantuan Kendali Operasi (BKO) dari Korps Sabhara, 3.802 personel Polda Metro Jaya, serta 586 personel Polres Metro Jakarta Pusat. Budi menegaskan bahwa seluruh personel yang bertugas tidak diperkenankan membawa senjata api.

“Tadi kita sama-sama mendengarkan direktif Bapak Kapolda Metro Jaya menekankan bahwa petugas yang melaksanakan pelayanan pengamanan penyampaian aspirasi di muka umum harus sabar, humanis, tidak terprovokasi,” kata Kabid Humas. Ia juga menyebutkan bahwa instruksi serupa disampaikan langsung oleh Kapolda Komjen Asep Edi Suheri.

“Termasuk penekanan dari Bapak Kapolda, tidak ada petugas TNI-Polri yang membawa senjata api di dalam pelayanan pengamanan aksi penyampaian pendapat ini. Termasuk kita menghimbau, mengajak kepada adik-adik mahasiswa untuk menyampaikan aspirasinya dengan baik dan sama-sama menghormati pengguna jalan lainnya,” imbuhnya.

Polda Metro Jaya telah menetapkan empat titik prioritas pengamanan, yaitu di sekitar kompleks DPR/MPR RI, Bundaran HI, Patung Kuda, dan kawasan Cikini Raya. Budi memastikan bahwa kehadiran aparat bertujuan untuk menjamin kelancaran penyampaian aspirasi mahasiswa yang dijamin oleh undang-undang. “Penyampaian aspirasi kepada publik, ini dilindungi oleh undang-undang. Jadi kehadiran petugas Polri dan TNI di dalam melaksanakan pelayanan ini untuk menjamin aspirasi yang disampaikan oleh adik-adik mahasiswa ini tersampaikan dengan baik,” pungkasnya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar