Ki Bandung dan Kunci Kuningan yang Menjaga Ingatan di Imogiri

- Kamis, 22 Januari 2026 | 08:06 WIB
Ki Bandung dan Kunci Kuningan yang Menjaga Ingatan di Imogiri

“Kadang hujan deras, angin kencang. Tapi pintu tetap dibuka. Bagi sebagian orang, datang ke sini adalah bagian dari ikhtiar batin mereka yang paling dalam.”

Ia ingin meluruskan satu hal. Ritual di Imogiri, baginya, bukan sekadar urusan mistis. Intinya adalah doa dan niat yang tulus. “Yang datang memang macam-macam tujuannya. Tapi yang kami jaga ya ketertiban dan niat baik itu sendiri,” jelasnya.

Cerita dari Mereka yang Datang

Amin Zainuri duduk bersila di sebuah sudut halaman. Di tangannya, sekantong bunga setaman. Wajahnya tenang, matanya terpejam sebentar sebelum bunga-bunga itu ia taburkan di pusara.

“Kalau sudah sampai di sini, rasanya pikiran lebih tertata,” aku Amin, yang rutin berziarah tiap tahun meski bukan keturunan kerajaan.

“Kita diingatkan dengan sangat nyata bahwa hidup ini cuma sementara.”

Bagi pria ini, Imogiri lebih dari sekadar situs sejarah. Ini adalah ruang refleksi. Tempat untuk berdialog dengan diri sendiri, jauh dari kesibukan dunia luar yang tak pernah berhenti menuntut. “Di luar sana kita sibuk mengejar segalanya. Di sini, kita justru diajak untuk diam,” katanya.

Peran para juru kunci dan abdi dalem, menurutnya, krusial. “Coba bayangkan kalau tidak ada mereka. Mungkin tempat ini sudah kehilangan ‘ruh’-nya sejak lama.”

Menjaga Ingatan di Tengah Laju Zaman

Di luar pagar makam, dunia bergerak cepat. Warung kopi modern bermunculan, kendaraan lalu lalang ramai. Tantangan terbesar justru datang dari dalam: regenerasi.

Ki Bandung menghela napas. Ia akui, tak banyak anak muda yang berminat meneruskan tugas sebagai juru kunci. Hidup harus sederhana, penuh disiplin, dan dituntut kesabaran tingkat tinggi. “Anak-anak sekarang maunya yang cepat, instan. Padahal, menjaga tradisi itu butuh waktu dan ketenangan yang justru susah dicari di zaman now,” ujarnya.

Kekhawatiran serupa diungkapkan Asmuri. Jika generasi muda makin menjauh dari sejarah dan budayanya sendiri, nilai-nilai yang dijaga di Imogiri lambat laun bisa memudar begitu saja. “Keraton dan Imogiri itu dua sisi dari koin yang sama. Kalau satu dilupakan, kita sudah kehilangan sebagian identitas,” tegasnya.

Menjelang sore, Ki Bandung kembali berdiri di gerbang kayu itu. Para peziarah satu per satu beranjak pergi. Dengan gerakan hati-hati, ia mendorong daun pintu besar itu tertutup. Perlahan. Seolah tak ingin mengusik keheningan yang mulai merayap kembali.

“Setiap hari saya buka dan tutup. Rutinitas yang sama,” gumamnya.

“Tapi sebenarnya, yang saya jaga bukan pintunya. Melainkan ingatan.”

Dari puncak Imogiri, sunyi kembali merajai. Di antara batu nisan dan tangga-tangga yang telah menyaksikan ratusan tahun berlalu, para penjaga seperti Ki Bandung terus merawat warisan yang tak tertulis di buku mana pun. Warisan yang hidup justru dalam laku sehari-hari, dalam kesetiaan mereka menjaga setiap detik kesunyian.

Selama masih ada yang setia menjaga sunyi, tradisi itu akan tetap bernapas. Meski zaman di luar pagar terus berubah tanpa ampun.


Halaman:

Komentar