Eskalasi di Timur Tengah memaksa pemerintah memutar otak. Ibadah haji 2026 harus tetap berjalan, tapi keamanan jemaah adalah yang utama. Tak heran, sejumlah skenario pun disiapkan, termasuk opsi pengalihan rute yang berujung pada pertimbangan anggaran tambahan.
Dalam rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI, Rabu lalu, Gus Irfan dari Kementerian Haji dan Umrah memaparkan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Ruang rapat di Senayan itu menyimak dengan serius.
“Pertama, ibadah haji tetap berangkat meski konflik masih berlangsung,” ujarnya.
Ini berlaku jika Arab Saudi tetap membuka penyelenggaraan, dan Indonesia memutuskan untuk memberangkatkan jemaah meski risikonya tinggi. Situasi yang cukup pelik, tentu saja.
Namun begitu, langkah antisipasi sudah disiapkan. Menghindari zona konflik menjadi prioritas. Rute penerbangan alternatif akan dialihkan ke selatan, melalui Samudera Hindia, lalu masuk lewat ruang udara Afrika Timur. Irak, Syria, Iran, dan negara-negara lain yang bergejolak akan dijauhi.
Tapi di sinilah konsekuensinya muncul. Pengalihan rute bukan perkara sederhana. Jarak tempuh pesawat bisa membengkak. Pesawat dengan jangkauan terbatas mungkin harus mendarat dulu di negara ketiga untuk isi ulang bahan bakar. Imbasnya jelas: biaya operasional bisa melonjak.
“Atau, kita ubah slot waktu penerbangannya agar jadwal keberangkatan dan kepulangan tetap tepat,” sambung Gus Irfan.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Hadiri Perayaan HUT Pertama Danantara
Anggota MPR Siti Mukaromah Ajak Perempuan Banyumas Perkuat Empat Pilar dan Peran di Keluarga
KPK Tetapkan Bupati Rejang Lebong Tersangka Suap, Sita Uang Rp 757 Juta
DPRD DKI Bentuk Pansus Khusus Evaluasi Sistem Sampah Usai Longsor Bantargebang