Modal Hijau Global Tersendat di Lapangan, BRI Soroti Peran Krusial Bank Lokal

- Rabu, 21 Januari 2026 | 20:30 WIB
Modal Hijau Global Tersendat di Lapangan, BRI Soroti Peran Krusial Bank Lokal

Di tengah hiruk-pikuk pembahasan tentang modal hijau global, ada satu tantangan yang sering terabaikan: eksekusi di lapangan. Komitmen dan dana mungkin melimpah di tingkat internasional. Namun, soal menyalurkannya dengan aman dan tepat sasaran ke pelosok negara berkembang, ceritanya jadi lain sama sekali. Itulah inti pembahasan yang mengemuka dalam sebuah panel di Paviliun Indonesia, World Economic Forum 2026 di Davos.

Hery Gunardi, Direktur Utama BRI, yang hadir dalam forum itu, menyoroti jurang antara ambisi dan realitas. Menurutnya, modal global untuk keberlanjutan sebenarnya sudah ada. Persoalannya, kata dia, adalah bagaimana memindahkan modal itu secara efisien ke tempat-tempat yang paling membutuhkan.

“Ketika kita bicara keberlanjutan di emerging markets, pertanyaannya bukan lagi soal ambisi, melainkan eksekusi,” ujar Hery.

Nah, di sinilah peran krusial bank lokal muncul. Mereka dinilai sebagai ‘anchor bank’ atau jangkar yang vital. Tanpa kehadiran mereka, skema pembiayaan campuran atau blended finance bisa mandek jadi wacana, tak pernah menyentuh sektor riil. Terutama sektor yang menjadi tulang punggung banyak negara berkembang: Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Hery menegaskan, mustahil membayangkan transisi hijau yang inklusif tanpa melibatkan UMKM. Sektor ini adalah pencipta lapangan kerja dan penopang ketahanan komunitas. Sayangnya, dalam percakapan global yang sering didominasi proyek raksasa dan green bond, nasib UMKM kerap terpinggirkan.

“Pembiayaan berkelanjutan harus bersifat inklusif. Transisi hanya akan berhasil jika UMKM bergerak maju bersama, bukan tertinggal,” tegasnya.

Pandangan serupa datang dari investor global. Kathryn Koch, Presiden dan CEO TCW, justru melihat peluang di tengah kompleksitas pasar negara berkembang. Ia malah berpendapat bahwa mengabaikan emerging markets justru berisiko bagi portofolio global.

“Justru berisiko jika tidak memiliki eksposur ke emerging markets,” kata Kathryn.

Kompleksitas itu, lanjutnya, sering disalahartikan sebagai risiko murni. Padahal, dengan dukungan sistem keuangan lokal yang kuat khususnya bank domestik yang paham betul medan risiko tersebut bisa dikelola. Bank-bank lokal inilah yang mampu menerjemahkan modal global menjadi pembiayaan yang produktif.

Kembali ke Hery, ia menjelaskan bagaimana BRI mencoba menjalankan peran jangkar tersebut. Caranya dengan menggandeng berbagai pihak, dari pemerintah hingga lembaga multilateral, untuk menyalurkan pembiayaan campuran ke UMKM. Tapi, strategi kelembagaan saja tak cukup.

Di sisi lain, digitalisasi disebut sebagai game changer. Teknologi digital mampu menekan biaya, memperluas akses, dan yang penting: mengumpulkan data ESG hingga ke level usaha mikro. Dengan kata lain, digitalisasi mengubah pembiayaan berkelanjutan dari sekadar proyek percontohan yang elitis menjadi sistem yang terintegrasi dan masif.

“Digitalisasi memungkinkan keberlanjutan untuk berkembang dalam skala besar,” jelas Hery.

Bagi BRI yang sehari-hari bergumul dengan segmen mikro, keberlanjutan bukanlah program khusus. Mereka menyebutnya sebagai strategi mass market yang sudah menyatu dengan operasional. Salah satu hambatan terbesar, persepsi bahwa UMKM tidak ‘bankable’, coba dijawab dengan pendekatan baru. BRI beralih dari pola lama yang mengandalkan agunan fisik ke pendekatan berbasis data mempercayai riwayat transaksi dan perilaku usaha.

Pada akhirnya, pesannya jelas. Keberlanjutan yang sesungguhnya bukanlah tentang instrument keuangan fancy di ibu kota.

“Keberlanjutan yang nyata terjadi ketika pembiayaan menjangkau desa, petani, dan micro-entrepreneur. Ini bukan bantuan sosial, melainkan aktivitas ekonomi yang layak secara komersial,” pungkas Hery.

Itulah tantangan sekaligus peluang sesungguhnya di emerging markets. Bukan sekadar menghimpun dana, tapi memastikan setiap rupiahnya sampai ke tangan yang tepat dan menghasilkan dampak riil.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar