Kembali ke Hery, ia menjelaskan bagaimana BRI mencoba menjalankan peran jangkar tersebut. Caranya dengan menggandeng berbagai pihak, dari pemerintah hingga lembaga multilateral, untuk menyalurkan pembiayaan campuran ke UMKM. Tapi, strategi kelembagaan saja tak cukup.
Di sisi lain, digitalisasi disebut sebagai game changer. Teknologi digital mampu menekan biaya, memperluas akses, dan yang penting: mengumpulkan data ESG hingga ke level usaha mikro. Dengan kata lain, digitalisasi mengubah pembiayaan berkelanjutan dari sekadar proyek percontohan yang elitis menjadi sistem yang terintegrasi dan masif.
Bagi BRI yang sehari-hari bergumul dengan segmen mikro, keberlanjutan bukanlah program khusus. Mereka menyebutnya sebagai strategi mass market yang sudah menyatu dengan operasional. Salah satu hambatan terbesar, persepsi bahwa UMKM tidak ‘bankable’, coba dijawab dengan pendekatan baru. BRI beralih dari pola lama yang mengandalkan agunan fisik ke pendekatan berbasis data mempercayai riwayat transaksi dan perilaku usaha.
Pada akhirnya, pesannya jelas. Keberlanjutan yang sesungguhnya bukanlah tentang instrument keuangan fancy di ibu kota.
Itulah tantangan sekaligus peluang sesungguhnya di emerging markets. Bukan sekadar menghimpun dana, tapi memastikan setiap rupiahnya sampai ke tangan yang tepat dan menghasilkan dampak riil.
Artikel Terkait
BI Proyeksikan Kredit Tumbuh 8-12% di 2026, Tapi Dana Rp2.439 T Masih Menganggur
Kuntilanak dan Pocong: Ketika Mistis Nusantara Hanya Jadi Mesin Cuan di Layar Lebar
Remaja 17 Tahun Tewas Usai Terjatuh dari Peron Stasiun Gondangdia
Petunjuk Kuat Shayne Pattynama Segera Gabung Persija, Ikuti Tren Pemain Timnas Pulang Kampung