Longsor Sampah di Bantargebang Tewaskan 4 Orang, 4 Masih Dicari

- Senin, 09 Maret 2026 | 10:15 WIB
Longsor Sampah di Bantargebang Tewaskan 4 Orang, 4 Masih Dicari

JAKARTA Tragedi datang dari tumpukan sampah. Longsor gunungan sampah di Zona 4 TPST Bantargebang, Bekasi, pada Minggu (8/3/2026) merenggut nyawa empat orang. Pemerintah DKI Jakarta lewat Dinas Lingkungan Hidupnya langsung menutup area bencana itu. Penutupan sementara ini untuk memudahkan evakuasi dan penyelidikan.

Hingga Senin dini hari, suasana di lokasi masih mencekam. Petugas gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, BPBD, dan Damkar Kota Bekasi masih sibuk mencari. Mereka mengais-ais material longsoran sampah yang mengubur korban.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI, Asep Kuswanto, mengonfirmasi kabar duka itu.

"Dari longsor ini tercatat empat orang meninggal dunia, dua orang perempuan dan dua laki-laki," ujarnya, dini hari tadi.

Namun begitu, ancaman belum benar-benar berakhir. Asep menyebut kemungkinan masih ada korban lain yang tertimbun. Pencarian masih terus digenjot.

"Kemungkinan masih ada satu atau dua orang lagi yang belum diketahui, masih dalam pencarian tim gabungan," katanya.

Dari sepuluh orang yang diduga menjadi korban, hitungan sementara begini: empat meninggal, dua selamat, dan sisanya empat orang masih hilang. Proses pencarian mereka yang menjadi prioritas utama saat ini.

Musibah ini jelas bikin pusing. Penutupan Zona 4 pasti mengganggu alur pembuangan sampah Jakarta yang setiap harinya mencapai ribuan ton. Bantargebang kan jadi 'perut' utama ibu kota.

Sebagai langkah darurat, truk-truk sampah dari Jakarta diminta menahan diri dulu. "Untuk truk sampah dari Jakarta kami coba untuk tidak membuang dulu dari sore hingga malam sampai proses evakuasi selesai," jelas Asep.

Padahal, volume sampah yang masuk ke Bantargebang itu luar biasa. Setiap hari, angkanya bisa mencapai 7.300 hingga 7.500 ton, diangkut oleh sekitar 1.200 rit truk. Bayangkan jika aliran itu terhambat lama.

Menyikapi ini, Dinas Lingkungan Hidup sedang cari solusi. Mereka berupaya membuka titik buang baru agar sampah di Jakarta tidak menumpuk. Biasanya, ada tiga hingga empat titik buang yang beroperasi. Tapi sejak musibah, hanya dua yang bisa dipakai.

"Titik buang sebenarnya ada tiga. Saat terjadi musibah hanya dibuka dua titik buang," ujar Asep.

Di sisi lain, ada upaya jangka panjang yang didorong. Fasilitas Refuse Derived Fuel Plant di Rorotan, Jakarta Utara, diharapkan bisa segera dioperasikan. Ini untuk mengurangi ketergantungan pada Bantargebang.

Namun untuk sekarang, fokus tetap pada penyelamatan. Mencari korban yang masih hilang, dan berharap tidak ada korban lagi yang berjatuhan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar