Suasana mencekam masih menyelimuti Stadion Kie Raha usai laga. Sabtu (7/3/2026) lalu, pertandingan sengit antara Malut United dan PSM Makassar di Super League 2025-2026 berakhir dengan skor 3-3. Namun, drama justru pecah selepas pertandingan.
Wasit Thoriq Alkatiri menjadi sasaran. Ia dipukuli oleh oknum suporter yang tak terima dengan hasil imbang itu. Tapi kekerasan tak berhenti di situ. Seorang jurnalis yang sedang meliput, bahkan merekam aksi intimidasi terhadap wasit, justru mendapat perlakuan kasar dari ofisial Malut United. Sungguh aksi yang memalukan.
Merespon insiden ini, PSSI akhirnya angkat bicara. Sekjen PSSI, Yunus Nusi, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Menurutnya, aksi seperti ini seharusnya tak pernah terjadi di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
"Penting bagi kami, baik itu pemukulan terhadap wasit, pada media dan lain-lain. Kami berharap ini menjadi yang terakhir. Mohonlah kawan-kawan klub, apalagi di sana ada ofisial yang ditengarai. Kita berharap apa pun yang terjadi, apalagi tidak ada kesalahan fatal yang dilakukan," tegas Yunus.
Di sisi lain, PSSI sudah memulai langkah tegas. Yunus menyatakan bahwa lembaganya akan melakukan investigasi mendalam. Semua fakta di lapangan akan dikumpulkan untuk ditindaklanjuti.
Nah, soal sanksi, Yunus membuka peluang lebar-lebar. Ia menyerahkan sepenuhnya kepada Komite Disiplin PSSI untuk mengambil keputusan. "Mengapa hal-hal ini dilakukan dan terulang-ulang? Tentu ini juga menjadi bahan dari komite disiplin. Dan PSSI menyerahkan semuanya kepada komdis. Apapun keputusannya, semua pihak harus menerimanya," ucapnya lagi. Nada suaranya terdengar lelah, tapi tegas.
Lebih jauh, Yunus punya harapan besar kepada manajemen klub. Ia meminta agar klub-klub di Super League proaktif memberikan pemahaman kepada suporter. Pesannya jelas: jangan lagi ada tindakan anarkis yang merusak.
"Sekali lagi kami berharap, hal-hal seperti ini jangan lagi terjadi. Ini tidak baik bagi atmosfer sepak bola Indonesia, kompetisi iLeague kita. Kita jaga bersama-sama. Manajemen harus tegas menyampaikan kepada pelatih, asisten, ofisial, pemain, apalagi kepada suporternya, untuk selalu bijak," pungkas Yunus.
Kini, bola ada di pengadilan Komdis. Sementara itu, publik sepak bola nasional hanya bisa menunggu dan berharap. Harapan agar kejadian memilukan di Ternate itu benar-benar menjadi yang terakhir.
Artikel Terkait
Pemerintah Resmi Bangun Hunian Layak bagi Warga Pinggir Rel di Pasar Senen
Mensos Gus Ipul Peringatkan Maraknya Hoaks Bansos, Tegaskan Bantuan Tidak Dikurangi
Sarana Jaya Gandeng Dishub Berantas Parkir Liar di Sekitar Depo MRT Lebak Bulus
Menantu Trump Ikut Misi Diplomasi ke Pakistan, AS Kirim Utusan Khusus untuk Jalin Komunikasi dengan Iran