Mojtaba Khamenei Resmi Ditunjuk Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran

- Senin, 09 Maret 2026 | 09:00 WIB
Mojtaba Khamenei Resmi Ditunjuk Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran

Mojtaba Khamenei resmi memimpin Iran. Pengangkatannya pada Minggu (8/3/2026) itu menutup periode berkabung sekaligus membuka babak baru yang penuh ketegangan. Dia menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas lebih dari seminggu lalu dalam sebuah serangan udara yang diklaim sebagai aksi gabungan AS dan Israel.

Selama ini, namanya memang kerap disebut. Tapi sosoknya sendiri jarang terlihat. Sebagai seorang ulama berusia 56 tahun, Mojtaba dikenal sebagai tokoh yang sangat berpengaruh di balik layar, namun hampir tak pernah muncul di panggung politik terbuka. Majelis Pakar badan beranggotakan 88 ulama itu yang akhirnya memutuskan nasibnya, memilihnya melalui prosedur konstitusional yang berlaku.

Memang, garis keturunannya tak bisa diabaikan. Dia adalah putra kedua almarhum pemimpin tertinggi. Tapi lembaga itu menegaskan ini bukan soal warisan tahta, melainkan hasil musyawarah. Bagaimanapun, pilihannya menjadikan Mojtaba pemimpin tertinggi ketiga sejak revolusi 1979. Warisan yang dia terima sungguh berat: konflik regional yang memanas dan situasi dalam negeri yang serba tak pasti.

Kehidupannya dibentuk oleh lingkungan agama dan politik yang intens. Lahir di Mashhad, kota suci di timur laut Iran, pada 8 September 1969, Mojtaba tumbuh menyaksikan sang ayah berubah dari tokoh revolusi menjadi presiden, lalu akhirnya pemimpin tertinggi. Keluarganya sendiri baru saja dilanda tragedi mengerikan.

Serangan yang merenggut nyawa ayahnya itu juga menewaskan istrinya, Zahra Haddad-Adel. Perempuan itu adalah putri dari politisi konservatif ternama, Gholam-Ali Haddad-Adel. Tidak hanya itu, ibu, saudara perempuan, saudara ipar, dan keponakannya juga jadi korban. Mojtaba selamat, tapi harus memikul duka yang amat dalam.

Dia menempuh jalan klasik para ulama Iran: belajar di Qom. Di kota suci Syiah itu, dia mendalami yurisprudensi dan teologi di bawah bimbingan guru-guru konservatif terkemuka. Namanya termasuk Ayatollah Mahmoud Hashemi Shahroudi dan ideolog keras Mohammad-Taqi Mesbah-Yazdi. Kariernya kemudian banyak dihabiskan untuk mengajar di seminari-seminari Qom, bahkan mengampu kelas tingkat tinggi.

Meski begitu, satu hal yang mencolok: dia tak punya pengalaman memegang jabatan pemerintahan formal. Tidak pernah duduk di kursi eksekutif atau lembaga terpilih. Ini membuat banyak analis penasaran.

Pengamat luar sering menyebutnya sosok misterius. Pengaruhnya, kata mereka, bekerja dalam diam. Jarang berpidato, hampir tak ada wawancara, manifesto politik pun tidak. Penampilannya cuma sesekali, biasanya di acara resmi negara atau peringatan keagamaan. Penampilan publik terakhirnya adalah di unjuk rasa dukungan untuk pemerintah awal tahun ini.

Ada cerita bahwa di masa muda, dia pernah ikut serta dalam Perang Iran-Irak akhir 80-an. Dia dikabarkan bergabung dengan unit sukarelawan. Beberapa media Barat juga kerap mengaitkannya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), meski tanpa bukti peran formal di sana.

Kini, dia memimpin di tengah badai. Transisi kekuasaan ini terjadi di bawah ancaman yang terang-terangan, terutama dari Israel.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bersuara keras. "Pemimpin mana pun yang dipilih oleh rezim teror Iran untuk terus memimpin rencana penghancuran Israel, mengancam Amerika Serikat, dunia bebas, dan negara-negara di kawasan itu, serta menindas rakyat Iran, akan menjadi target pembunuhan, tidak peduli namanya atau di mana ia bersembunyi," katanya.

Ancaman itu menggantung di udara. Ia menggarisbawahi satu hal: tekanan terhadap suksesi ini luar biasa besarnya. Mojtaba Khamenei tidak hanya memimpin sebuah negara. Dia berdiri di pusat konfrontasi geopolitik yang jauh melampaui batas-batas Iran.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar