Tarif Nol Persen AS Buka Peluang Ekspor, Tapi Daya Saing Jadi Kunci

- Minggu, 08 Maret 2026 | 16:20 WIB
Tarif Nol Persen AS Buka Peluang Ekspor, Tapi Daya Saing Jadi Kunci

Indonesia dan Amerika Serikat akhirnya sepakat. Lewat Agreement on Reciprocal Trade (ART), sebanyak 1.819 produk asal Indonesia bakal dikenai tarif nol persen untuk masuk ke pasar AS. Kabar ini tentu saja disambut sebagai angin segar yang bisa membuka keran ekspor lebih lebar.

Tapi, jangan terlalu cepat girang. Tauhid Ahmad, ekonom senior dari Indef, punya catatan penting. Menurutnya, fasilitas tarif nol persen itu bukanlah sesuatu yang eksklusif cuma buat Indonesia. "Banyak negara juga dapat fasilitas serupa, contohnya Malaysia dan Vietnam," ujarnya dalam pernyataan resmi, Minggu (8/3/2026).

Artinya, akses pasar memang terbuka lebar. Namun, di sisi lain, persaingan di dalamnya akan semakin ketat. "Kita tetap harus bersaing dengan negara lain yang punya kapasitas industri kuat," tambah Tauhid.

Jadi, manfaat riil dari kebijakan ini sepenuhnya bergantung pada satu hal: daya saing industri dalam negeri. Tanpa peningkatan produktivitas, kualitas, dan efisiensi biaya, peluang itu bisa jadi sekadar angka di atas kertas.

Ambil contoh sektor elektronik. Persaingan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara sudah sangat sengit. Atau komoditas seperti CPO. Meski kita produsen besar, pasar punya banyak alternatif dari negara lain yang juga menikmati tarif rendah. Tantangannya nyata.

Lalu, sektor mana yang paling siap? Garda Maharsi dari Prognosa Research & Consulting mencoba memetakannya. Ia melihat beberapa sektor punya potensi besar untuk menangkap momentum ART ini, seperti industri nikel, energi, dan petrokimia. CPO juga berpeluang, asal didukung kebijakan yang tepat.

"Sejumlah sektor memang punya peluang kuat. Tapi, agar potensinya jadi kenyataan, perlu dukungan ekosistem industri yang memadai," jelas Garda.

Dukungan itu, lanjutnya, bisa berupa kemudahan akses pembiayaan, logistik yang efisien, dan penguatan rantai pasok. Sementara untuk sektor seperti tekstil, produk logam, dan mineral, masih dibutuhkan penguatan kapasitas yang serius sebelum bisa benar-benar bersaing di kancah global.

Editor: Raditya Aulia


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar