Bayangkan saja, medannya didominasi bebatuan kapur, tanjakan curam, dan jalur sempit. Butuh fisik prima dan pengalaman yang cukup. Sepanjang jalur, ada 10 pos peristirahatan termasuk puncak. Di puncak, ada menara pemancar radio milik Balai Taman Nasional.
Dan inilah imbalannya: panorama hamparan Karst Maros-Pangkep yang luas dan ikonik. Pemandangan inilah yang menjadi daya tarik utamanya.
Kawasan Konservasi dan Ekowisata
Perlu diingat, Gunung Bulusaraung ini merupakan bagian dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan konservasi ini punya visi untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata. Pengelolanya terus berbenah, membangun pusat informasi dan sarana pendukung untuk keselamatan pengunjung.
Tapi ya itu, karakter alamnya memang keras. Terjal, tertutup hutan lebat, dan cuaca bisa berubah dengan cepat. Tingkat kesulitannya tinggi, baik untuk pendakian biasa apalagi untuk operasi pencarian dan penyelamatan.
Kondisi inilah yang sekarang jadi tantangan besar bagi tim SAR. Juga menjadi pengingat yang keras bagi kita semua: betapa alam pegunungan karst Sulawesi Selatan ini tak bisa diremehkan.
Artikel Terkait
Jacksen F. Tiago Ambil Alih Kendali MilkLife Soccer Challenge Putri
Lavrov Bantah Rusia Ingin Greenland: Itu Bukan Masalah Kami
Amran Sulaiman: Beras Ilegal Ancam Semangat Petani dan Kesehatan Publik
Chief Mouser Larry Curi Perhatian Saat Sambut Presiden Prabowo di Downing Street