Fenomena ini rupanya juga menarik minat anak muda. Ambil contoh Dhaniswara Ahmad (20), seorang mahasiswa.
“Saya suka banget sama kafe, bahkan sering juga ke kafe. Tapi angkringan itu "vibes"-nya beda banget, kayak ada ketenangan sendiri di situ,” jelasnya.
Ia melihat ironi yang menarik. Di kafe modern, orang sering terjebak dalam kesunyian individual, sibuk dengan gawai masing-masing. Tapi di angkringan, orang justru antusias mendengarkan cerita orang lain. Suatu malam, saat ia buntu mengerjakan tugas kuliah, seorang bapak-bapak di sebelahnya malah memberi ide segar.
“Terus malah dibantuin kasih ide. Saya merasa ada suasana hidup sama "vibes" kekeluargaan yang nggak saya temuin di tempat yang serba minimalis dan estetik,” kenang Dhaniswara.
Kehadirannya membuktikan angkringan itu ruang yang benar-benar inklusif. Status akademik atau usia nggak jadi pembatas. “Kita bisa duduk bareng orang yang beda-beda, kadang sama delman, tukang parkir, dosen, mahasiswa, semua setara,” imbuhnya.
Dan ketika kota mulai sunyi, jendela-jendela rumah tertutup, angkringan justru mencapai puncak perannya. Bagi pekerja malam seperti Andriyono Aprianto (29), seorang driver ojek online, ini adalah terminal pemberhentian terakhir sebelum pulang.
“Bagi saya, angkringan itu terminal istirahat. Kalau jam 3 pagi mata sudah sepet, narik orderan mulai sepi, pelariannya ya ke sini,” ujar Andriyono sambil menyeruput kopi hitamnya.
Dunia luar mungkin keras dengan target dan algoritma aplikasi. Tapi meja kayu angkringan menawarkan jeda. Di sini, Andriyono menemukan ekosistem dukungan dari sesama pekerja malam. Mereka ngobrol tentang ‘spot’ ramai, atau sekadar bercanda. “Hitung-hitung pelepas penat,” ungkapnya.
Menariknya, sosok penjual seperti Basuki sering jadi terapis dadakan. “Sesekali ngobrol juga sama yang punya angkringan, enggak kenal tapi beliau mau mendengar,” ujarnya.
Pada akhirnya, angkringan adalah bukti nyata. Seberapapun canggihnya teknologi, manusia tetaplah makhluk sosial yang butuh sentuhan narasi yang nyata. Ia jadi katup pengaman di tengah tekanan ekonomi dan politik yang makin menghimpit. Demokrasi di sini nggak perlu diperdebatkan di mimbar ia dipraktikkan secara alami, lewat segelas teh manis dan sepiring nasi kucing.
Ruang publik tak harus megah atau tinggi teknologi. Angkringan justru hidup karena kedekatan, kehangatan, dan keterbukaan yang polos. Di balik kopi panas dan lampu temaram, ia adalah panggung kecil bagi cerita-cerita tentang manusia. Tentang kebutuhan untuk didengar. Tentang kebersamaan tanpa syarat.
Hingga fajar menyingsing, angkringan akan tetap ada. Bukan cuma sebagai usaha kecil, tapi lebih sebagai monumen kehidupan rakyat. Tempat di mana kopi panas tak cuma menghangatkan kerongkongan, tapi juga jiwa-jiwa yang haus akan cerita dan keberadaan sesamanya. Selama orang masih butuh didengar, selama itu pula angkringan tak akan kehilangan ceritanya.
Artikel Terkait
OJK Kini Bisa Gugat Pelaku Usaha yang Rugikan Konsumen
Laporan Pajak 2025 Baru Tembus 372 Ribu, Aktivasi Akun Digital Justru Tembus 12 Juta
Bupati Pati Ditangkap KPK, Klaim Dikorbankan dalam Kasus Perangkat Desa
Damai Hari Lubis Pertanyakan Status Tersangka: Ini Berbau Politis!