Pascabencana di Sumatera, upaya pemulihan terus digenjot. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) kini fokus menangani kerusakan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Namun begitu, kerja mereka tak cuma soal membangun kembali jalan atau jembatan yang rusak. Ada aspek lain yang dianggap tak kalah penting: menggerakkan roda perekonomian warga yang terdampak. Caranya? Melalui program padat karya.
Menteri PU, Dody Hanggodo, menegaskan skema ini punya tujuan yang jelas. "Kalau masyarakat dibiarkan diam dan bersedih terlalu lama, pemulihan akan terhambat," ujarnya.
Dia menjelaskan, program ini sudah berjalan sejak pertengahan Desember 2025. Dengan melibatkan warga setempat, diharapkan mereka bisa segera kembali produktif dan punya penghasilan. Upaya ini dilakukan berbarengan dengan dukungan personel TNI dan Polri.
"Sejak pertengahan Desember 2025, kami menggunakan pola padat karya. Sehingga Kementerian PU bersama dengan TNI, Polri, dan masyarakat yang dipekerjakan secara padat karya mulai bekerja selama 24 jam," kata Dody dalam keterangan resminya, Minggu (18/1/2026).
Rupanya, langkah ini tak lepas dari arahan Presiden. Menurut Dody, skema padat karya merupakan implementasi dari prinsip Build Back Better yang ditekankan Presiden Prabowo Subianto dalam proses Rehabilitasi dan Rekonstruksi.
"Kita semua berharap perekonomian segera bergulir lagi, masyarakat harus segera punya income lagi. Dan kami harap dengan program padat karya yang kita gulirkan dapat membantu masyarakat," imbuhnya.
Hingga 15 Januari 2026 sekitar 52 hari pasca bencana prioritas utama memang masih pada infrastruktur dasar. Konektivitas jalan dan jembatan, plus layanan sumber daya air, jadi perhatian utama. Tapi sebelumnya, ceritanya berbeda.
Artikel Terkait
BNPB Perpanjang Operasi Tembak Awan hingga Akhir Pekan, Waspada Hujan Lebat di Jakarta dan Jawa Barat
Hino Bertahan di Pasar Truk yang Lesu, Rekor 25 Tahun Tak Tergoyahkan
Alfrida Pasongli: Dari Kios BRILink di Dekai, Menggerakkan Ekonomi Warga Yahukimo
Prabowo Buka Diplomasi Global dengan Singgah di London Sebelum Pidato di Davos