FAO (2022) dalam laporannya bahkan menekankan hal ini. Tanaman ini relatif tahan kekeringan dan bisa tumbuh di lahan marginal. Dalam situasi perubahan iklim yang makin nyata, karakter seperti ini jadi sangat berharga. Ubi Cilembu adalah contoh nyata pangan lokal yang adaptif dan berkelanjutan.
Soal produksi, ubi ini cukup bersahabat bagi petani kecil. Umur panennya lima hingga tujuh bulan dengan perawatan yang tidak terlalu rumit. Produktivitas rata-ratanya bisa mencapai 12 sampai 17 ton per hektar, dan angka itu masih bisa ditingkatkan. Biaya produksinya pun relatif terjangkau, sehingga bisa menguatkan ekonomi keluarga sekaligus ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.
Dari segi gizi, posisinya juga kuat. Dalam setiap 100 gram, terkandung vitamin A dan C yang cukup signifikan. Ia juga kaya beta karoten yang berfungsi sebagai antioksidan. Kandungan seratnya membantu pencernaan dan bikin kenyang lebih lama. Energinya dilepaskan bertahap, cocok buat mereka yang aktif seharian.
Lalu, bagaimana dengan kadar gulanya? Kekhawatiran ini wajar. Tapi, manisnya berasal sepenuhnya dari gula alami hasil konversi pati, tanpa tambahan pemanis buatan. Indeks glikemiknya tergolong sedang. Metode mengolahnya sangat berpengaruh; merebus atau mengukus lebih ramah gula darah, sementara memanggang tetap aman asal porsinya bijak.
Ngomong-ngomong soal pengolahan, ubi ini sangat fleksibel. Memanggang tetap jadi ikon karena mempertahankan aroma dan rasanya dengan sempurna. Tapi kreativitas tidak berhenti di situ. Sekarang ada keripik, selai, dodol, tape, bahkan tepung dan mi dari Ubi Cilembu.
Inovasi terus didorong, termasuk oleh Kementerian Pertanian, untuk meningkatkan nilai tambah dan membuka peluang usaha. Pangan lokal seperti ini bisa jadi ruang strategis untuk berkreasi.
Nilai ekonominya bahkan sudah menembus pasar luar negeri. Singapura, Malaysia, Korea Selatan, dan Jepang sudah menjadi langganan. Minat industri Jepang khususnya cukup besar, mereka memanfaatkannya untuk pangan tradisional, minuman, hingga bahan kosmetik. Makanya, standar mutu dijaga sangat ketat. Konsistensi adalah kunci untuk mempertahankan kepercayaan pasar global, tanpa menghilangkan identitas lokalnya.
Pada akhirnya, Ubi Cilembu lebih dari sekadar cerita kuliner. Ia adalah pengingat sederhana bahwa solusi pangan masa depan tidak selalu harus datang dari teknologi tinggi yang rumit. Terkadang, jawabannya justru tumbuh pelan-pelan dari tanah kita sendiri.
Seperti ditekankan FAO, peran generasi muda dalam membangun sistem pangan berkelanjutan sangat krusial. Diperlukan inovasi, keberanian, dan kepedulian.
Manis Ubi Cilembu bukan cuma soal rasa di lidah. Ia membawa serta harapan untuk sistem pangan yang lebih mandiri, beragam, dan benar-benar berkelanjutan.
Artikel Terkait
Media Vietnam Resah, Naturalisasi Indonesia Jadi Ancaman di Piala AFF 2026
Honda Tersudut: Gempuran EV China dan Perubahan Selera Konsumen Menggerus Pasar
Harga Hybrid Turun, Gelombang Hijrah dari Bensin Menguat
Prabowo Serukan Kampus Cetak SDM Unggul dan Berintegritas di Tengah Gejolak Global