Angka resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) akhirnya keluar. Ternyata, harga-harga konsumen pada Februari 2026 mengalami kenaikan. Inflasi bulanan tercatat sebesar 0,68 persen, mendorong Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 109,75 di Januari menjadi 110,50. Situasi ini cukup berbeda dengan tahun lalu, di mana pada periode yang sama justru terjadi deflasi sebesar 0,48 persen.
Kalau dilihat dari awal tahun, inflasi secara tahun kalender masih terkendali di angka 0,53 persen. Tapi, siapa penyumbang utama kenaikan harga bulan lalu?
Jawabannya ada di piring kita sehari-hari.
“Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 1,54 persen,” jelas Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam rilisnya di Jakarta, Senin (2/3/2026).
“Kelompok ini memberikan andil inflasi sebesar 0,45 persen,” tambahnya.
Rinciannya, yang paling terasa adalah harga daging ayam ras, disusul cabai rawit yang pedas harganya, lalu ikan segar, dan cabai merah. Tomat, beras, dan telur ayam ras juga ikut menyumbang, meski porsinya lebih kecil. Di tengah tren naik ini, ada sedikit kabar baik: harga bensin justru memberi andil deflasi sebesar 0,05 persen.
Nah, kalau ditelisik berdasarkan komponennya, inflasi Februari lalu terutama didorong oleh komponen bergejolak (volatile food). Andilnya mencapai 0,41 persen, dengan aktor utamanya ya itu tadi: ayam ras dan cabai-cabaian. Sementara itu, komponen inti menyumbang 0,27 persen, didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan, minyak goreng, hingga harga mobil dan makan nasi dengan lauk di luar rumah. Komponen harga yang diatur pemerintah relatif stabil, bahkan mengalami deflasi tipis.
Dari sisi wilayah, gambaran bulanannya beragam. Sebanyak 33 provinsi mengalami inflasi, sementara lima provinsi lainnya justru mencatat deflasi. Sulawesi Selatan jadi daerah dengan inflasi tertinggi, mencapai 1,04 persen. Di sisi lain, Papua Barat mengalami penurunan harga terdalam, yaitu 0,65 persen.
Rilis kali ini juga menyoroti momen Ramadan. Menurut catatan BPS, dalam lima tahun terakhir, inflasi selalu terjadi saat Ramadan, meski besaran angkanya naik-turun.
“Tingkat inflasi Februari 2026 yang bertepatan dengan momen Ramadan ini masih lebih rendah dibandingkan momen Ramadan 2022 dan Ramadan 2025,” kata Ateng.
Dia melanjutkan, pola yang kerap terlihat adalah komoditas bergejolak serta kelompok makanan dan minuman selalu menjadi biang keladi inflasi di setiap Ramadan.
Lalu, bagaimana dengan inflasi tahunan? Angkanya terpantau lebih tinggi, yakni 4,76 persen (y-on-y) pada Februari 2026. Ini berbanding terbalik dengan kondisi Februari 2025 yang malah deflasi 0,09 persen. BPS punya penjelasan untuk ini.
Pihaknya menyebut adanya efek "low-base" atau dasar penghitungan yang rendah. Awal tahun lalu, pemerintah memberikan diskon tarif listrik yang menekan IHK secara artifisial. Kebijakan serupa tidak ada di 2026, sehingga perbandingan tahunannya jadi melonjak. Dampak efek ini paling kentara pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar, yang inflasi tahunannya mencapai 16,19 persen!
Kelompok makanan tetap mengalami inflasi tahunan 3,51 persen. Hampir semua provinsi mengalami inflasi tahunan, dengan Aceh mencatat tingkat tertinggi (6,94%) dan Papua Pegunungan yang terendah (0,63%).
Singkatnya, dinamika harga bulan lalu memang kompleks. Ada tekanan dari bahan pangan, tapi juga ada efek statistik dari kebijakan tahun sebelumnya yang membuat angka tahunan terlihat besar.
Artikel Terkait
Bapanas Pantau Stabilitas Harga dan Pasokan Pangan di Banten Pasca-Lebaran
Menteri ESDM: Indonesia Kejar Pasokan Minyak Mentah dari Rusia untuk Tutupi Defisit Energi
Kemenperin Antisipasi Gangguan Rantai Pasok Petrokimia Akibat Gejolak Selat Hormuz
Kementerian Kehutanan Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di Riau Cegah Karhutla