Sejak akhir Februari 2026, Iran telah merusak sedikitnya 20 fasilitas militer Amerika Serikat yang tersebar di delapan negara Timur Tengah, sebuah temuan yang diungkap oleh analisis citra satelit dan video yang diverifikasi BBC. Angka ini jauh melampaui pengakuan publik yang selama ini disampaikan oleh pejabat Amerika, dan beberapa analis bahkan memperkirakan jumlah pangkulan yang terkena gempuran bisa mencapai 28 titik.
Fasilitas-fasilitas yang menjadi sasaran tersebut berada di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Irak, Yordania, Bahrain, dan Oman. Rangkaian serangan ini tidak hanya melumpuhkan sejumlah perangkat vital, tetapi juga menyebabkan kerusakan bernilai jutaan dolar pada sistem pertahanan udara canggih, pesawat pengisian bahan bakar, serta radar. Sementara itu, pangkalan AS dan fasilitas militer bersama lainnya turut menjadi target setelah serangan gabungan AS-Israel di Iran dan Lebanon dalam tiga bulan terakhir.
Pada Selasa, 26 Mei, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, secara terbuka menyatakan bahwa Timur Tengah tidak lagi menjadi “tempat yang aman” bagi pangkalan militer Amerika. Pernyataan ini muncul di tengah klaim Pentagon yang menyebut telah menyerang lebih dari 13.000 target di Iran sejak dimulainya Operasi Epic Fury. Gedung Putih pun berulang kali menyatakan bahwa militer Iran hampir sepenuhnya dilumpuhkan.
Namun, temuan para analis justru menunjukkan gambaran yang berbeda. Kerusakan yang terlihat di berbagai fasilitas militer AS mengindikasikan bahwa serangan balasan Iran lebih tepat sasaran dan lebih luas daripada yang diakui oleh pejabat Amerika. Ketika dimintai konfirmasi, pejabat pertahanan AS menolak berkomentar dengan alasan “keamanan operasional.”
Upaya pembatasan informasi pun dilakukan. Amerika Serikat diketahui meminta Planet, penyedia utama citra satelit, untuk memberlakukan pembatasan “tanpa batas waktu” terhadap gambar baru Iran dan sebagian besar wilayah Timur Tengah. Langkah ini, menurut Planet, diambil agar citra tidak digunakan oleh pihak lawan untuk menargetkan personel dan warga sipil sekutu serta mitra NATO. BBC Verify kemudian menggunakan citra satelit dari penyedia internasional lain yang dikombinasikan dengan gambar lama dari Planet untuk melacak kerusakan akibat serangan Iran.
Kerusakan yang terjadi tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menghancurkan perangkat-perangkat penting. Tiga sistem peluncur rudal anti-balistik canggih Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di pangkalan udara Al Ruwais dan Al Sader di UEA serta Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania dilaporkan hancur. Amerika Serikat diketahui hanya mengoperasikan delapan sistem THAAD di seluruh dunia, dengan masing-masing unit menghabiskan biaya produksi sekitar satu miliar dolar AS atau setara Rp17,8 triliun. Setiap peluncur membutuhkan sekitar 100 personel untuk mengoperasikannya, sementara setiap peluru yang ditembakkan berharga sekitar 12,7 juta dolar AS per unit.
Laksamana Madya Mark Mellett, mantan kepala staf Angkatan Bersenjata Irlandia, menegaskan bahwa sistem peluncur rudal tersebut merupakan inti dari jaringan pertahanan regional yang “sangat kompleks” dan tidak dapat “digantikan dengan cepat atau mudah.” Selain itu, serangan Iran juga menghantam secara signifikan pesawat pengisian bahan bakar dan pesawat pengintai milik AS di Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi. Analis dari MAIAR mengidentifikasi satu pesawat yang rusak sebagai pesawat pengintai E-3 Sentry, yang biaya penggantiannya dilaporkan bisa mencapai 700 juta dolar AS.
Di Kuwait, Pangkalan Udara Ali Al Salem dan Camp Arifjan juga menjadi sasaran. Analis di MAIAR mengidentifikasi bunker penyimpanan bahan bakar, hanggar pesawat, dan akomodasi pasukan yang hancur setelah diserang beberapa kali. Sementara itu, perusahaan intelijen pertahanan Janes menemukan kerusakan luas pada perangkat komunikasi satelit di Camp Arifjan. Sejauh mana kerusakan pada fasilitas AS memang masih sulit diukur secara pasti, namun Pentagon dalam laporannya pada bulan Mei mengalokasikan total biaya Operasi Epic Fury sebesar 29 miliar dolar AS. Sebagian besar dari anggaran tersebut kemungkinan dihabiskan untuk perbaikan atau penggantian peralatan yang hancur dalam konflik. Politisi Partai Demokrat menilai angka tersebut merupakan perkiraan yang terlalu rendah.
Laporan yang sama juga menemukan bahwa setidaknya 42 pesawat, termasuk jet tempur F-15 dan F-35, 24 drone MQ-9 Reaper, dan sebuah pesawat serang A-10 telah hancur atau rusak sejak Februari. Di sisi lain, Iran dilaporkan menggunakan drone murah yang mudah diganti dalam serangannya. Para ahli yang berbicara kepada BBC Verify mengungkapkan bahwa taktik Iran telah berkembang selama perang. Iran tidak lagi mengandalkan rentetan rudal besar-besaran yang menargetkan kota dan pangkalan, melainkan beralih ke serangan yang lebih tepat dan terarah.
“Serangan awal Iran dirancang mengandalkan gelombang massal yang bertujuan untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara dan rudal melalui jumlah yang sangat besar,” kata Dr. Kelly Grieco, analis dari Stimson Center yang berbasis di AS. “Namun, dalam beberapa hari, Iran beralih ke rentetan yang lebih kecil dan lebih tepat sasaran. Mereka menghemat rudal dan drone yang tersisa untuk target bernilai tinggi serta memusatkan serangan di lokasi-lokasi yang bahkan serangan nyaris meleset pun bisa menimbulkan kerusakan parah.”
Sementara itu, analis di MAIAR menilai militer AS “tampaknya merasa bersalah atas kelengahan pada tahap awal perang” karena gagal mengalihkan pesawat agar lepas dari jangkauan drone dan rudal Iran seiring berkembangnya taktik Iran. Dalam kasus pangkalan udara Prince Sultan, fasilitas tersebut sebelumnya telah diserang sebelum pesawat-pesawat dihancurkan.
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, bersumpah bahwa “bangsa-bangsa dan wilayah di kawasan ini tidak akan lagi menjadi tameng bagi pangkalan Amerika.” Ia menambahkan bahwa AS tidak akan lagi memiliki tempat aman di kawasan ini, bahkan untuk mendirikan pangkalan militer. Pernyataan ini muncul hanya beberapa hari sebelum gencatan senjata antara AS dan Iran kembali mengalami ketegangan. Pada Kamis, 28 Mei, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menyerang sebuah pangkalan AS di kawasan tersebut, menyusul serangan baru AS di wilayah selatan Iran.
Dr. Grieco memperingatkan jika gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran runtuh dan pertempuran kembali berkobar, kerusakan yang telah terjadi pada pangkalan-pangkalan AS menunjukkan bahwa fasilitas-fasilitas di seluruh wilayah Teluk dapat menjadi rentan. “Konflik saat ini telah menghabiskan stok pertahanan udara AS dan sekutunya dalam jumlah besar,” katanya. “Tidak ada cara cepat untuk mengisi kembali persediaan tersebut, artinya serangan baru dari Iran akan dihadapi dengan hanya sebagian kecil dari jumlah pertahanan yang tersedia saat konflik dimulai.”
Artikel Terkait
Ular King Kobra Sepanjang Empat Meter Dievakuasi dari Garasi Rumah Warga Bogor
Allano Lima Resmi Tinggalkan Persija, Ungkap Keinginan Bertahan Namun Keputusan Bukan di Tangannya
NasDem Apresiasi Momen Kedekatan Prabowo dan Megawati: Teladan bagi Negarawan
Kebakaran Hebat di Pasar Jiung Kemayoran Hanguskan 250 Rumah, Brimob Dikerahkan