Ini persoalan serius. Penurunan kelas menengah secara nasional disebutnya terjadi secara dramatis. Artinya, bencana tak hanya mendorong orang ke bawah, tetapi juga menggerus kelompok yang seharusnya menjadi penopang ekonomi. Konsolidasi data yang tepat, harapannya, bisa menjadi peta untuk intervensi dini yang lebih fokus.
Di sisi lain, Cak Imin juga menyoroti dampak langsung bencana terhadap aktivitas ekonomi warga. Semua serba terhenti. Karena itu, anggaran pemulihan pasca-bencana harus benar-benar menyentuh pemulihan aset ekonomi masyarakat. Bukan sekadar bantuan sesaat.
"Memperbanyak uang beredar, intervensi berbasis kebutuhan masyarakat lokal atau partisipatif, bukan hanya objek bantuan," jelasnya.
Lalu, langkah konkret seperti apa yang dia usung? Program padat karya tunai atau cash for work harus jadi inti bantuan pusat. Selain itu, paket pelatihan kerja berbayar lewat APBN yang mencakup peningkatan kapasitas hingga penciptaan lapangan kerja baru juga dianggap crucial. Intinya, pemulihan ekonomi harus bergerak seiring dengan pemulihan infrastruktur.
Rapat itu pun berakhir dengan catatan panjang. Ancaman peningkatan kemiskinan dan penyusutan kelas menengah pasca-bencana kini jadi tantangan nyata. Tindakan cepat dan data yang solid menjadi harga mati.
Artikel Terkait
Pertamina Kaderisasi 419 Insinyur Hadapi Gelombang Transisi Energi
Satgas PKH Panggil 32 Perusahaan Tambang, Dua Absen dengan Denda Triliunan
Derbi Legenda Madrid-Barca di Jakarta 2026: Tiket Mulai Laris Manis
BCA Tutup Cabang Fisik Jelang Isra Mikraj, Layanan Digital Tetap 24 Jam