Langkah ini jelas punya tujuan strategis: memaksimalkan kapasitas produksi yang dimiliki Mitsubishi. Di sisi lain, bagi Nissan, ini adalah cara efisien untuk memenuhi permintaan pasar.
Kolaborasi semacam ini sebenarnya sudah jadi hal biasa bagi Mitsubishi dan Nissan. Secara global, mereka memang sudah bersekutu dalam satu aliansi. Berbagi fasilitas dan aset produksi adalah bagian dari strategi mereka untuk tetap tangguh di tengah persaingan.
Kalau kita lihat ke Indonesia, pola serupa juga pernah terjadi. Ambil contoh Mitsubishi Xpander. LMPV yang fenomenal itu, nyaris satu dekade menguasai pasar, akhirnya ‘ditiru’ oleh Nissan.
Mereka memanfaatkan platform yang sama untuk melahirkan Livina generasi terbaru di tahun 2019. Hasilnya? Dua mobil yang bersaudara, saling berbagi DNA, tapi dijual dengan badge yang berbeda.
Tidak cuma bertukar platform. Keduanya bahkan pernah berbagi pabrik di dalam negeri untuk merakit Xpander dan Livina, plus komponen-komponen pendukungnya. Di tengat persaingan otomotif yang makin sengit, cara seperti ini dinilai jauh lebih efisien. Hemat biaya, waktu, dan tenaga. Semua pihak diuntungkan.
Artikel Terkait
AS Segera Izinkan Chevron Genjot Produksi Minyak Venezuela
Biodiesel B50 Ditunda, Harga CPO Malaysia Tergerus Sentimen Negatif
Yamaha XMAX 250 Connected Dapat Warna Baru, Harga Tetap Stabil
KPK Geledah Pusat Pajak, Buru Aliran Suap Pengurang Pajak