Air Bersih Mengalir Kembali, Pengeboran Sumur Genjot Pemulihan Aceh Pascabencana

- Kamis, 15 Januari 2026 | 02:30 WIB
Air Bersih Mengalir Kembali, Pengeboran Sumur Genjot Pemulihan Aceh Pascabencana

Pascabencana di Aceh, upaya pemulihan terus digenjot. Kali ini, fokusnya pada hal yang paling mendasar: air bersih. Kementerian PU, lewat berbagai balainya, sedang berjibaku membangun puluhan titik sumur, baik dangkal maupun dalam, untuk memastikan warga terdampak bisa kembali hidup layak.

Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menekankan bahwa penyediaan air bersih adalah prioritas utama. Baginya, ini bukan sekadar soal infrastruktur, tapi tentang keberlangsungan hidup sehari-hari.

“Pemulihan pascabencana tidak hanya menyangkut perbaikan infrastruktur yang rusak, tetapi juga memastikan masyarakat kembali mendapatkan akses terhadap kebutuhan dasar, terutama air bersih. Fasilitas ibadah, layanan kesehatan, dan hunian sementara harus segera berfungsi normal agar warga bisa kembali beraktivitas dengan aman dan layak,” tegasnya dalam keterangan resmi, Rabu lalu.

Di lapangan, progresnya cukup dinamis. Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) Aceh ditugaskan mengerjakan 57 titik sumur bor baru. Targetnya menyebar di tiga kabupaten: Aceh Tamiang, Pidie Jaya, dan Bener Meriah. Pekerjaan ini melengkapi 24 titik yang sebelumnya sudah ditangani oleh Balai Wilayah Sungai Sumatera I.

Kabupaten Aceh Tamiang sejauh ini menunjukkan kemajuan yang menggembirakan. Lima sumur bor dangkal sudah beres seratus persen dan langsung dialirkan untuk fasilitas umum. Warga di sekitar Polindes Meunasah Paya, Puskesmas Manyak Payed, Karang Baru, serta Masjid Babul Falah dan Baitul Amal, kini sudah bisa menghirup lega.

Tak cuma sumur dangkal, pembangunan sumur bor dalam juga dikebut. Beberapa titik bahkan sudah menembus kedalaman puluhan meter. Puskesmas Bendahara, misalnya, bor-nya sudah mencapai 85 meter. Disusul Puskesmas Rantau (65 meter) dan Karang Baru (47 meter). Bahkan, di Desa Kota Lintang dan Kantor Datok Kampung Suka Makmur, sumur bor dalamnya sudah siap pakai.

Namun begitu, tidak semua lokasi berjalan mulus. Di beberapa tempat, pekerjaan baru dimulai. Seperti di Kantor Datok Alur Bemban, yang baru mencapai 6 meter. Sementara untuk lokasi lain, seperti Puskesmas Kejuruan Muda, tim masih dalam tahap memobilisasi alat berat.

Lalu, bagaimana dengan kabupaten lain?

Di Pidie Jaya, sejumlah sumur dangkal telah rampung dan langsung dimanfaatkan. Titik-titiknya tersebar di beberapa huntara dan meunasah di Kecamatan Meurah Dua dan Meureudu. Untuk sumur bor dalam, pengerjaan masih berlangsung. Di Huntara 2 Kecamatan Meurah Dua, misalnya, baru mencapai 14 meter. Sedangkan di Kompleks Dinas Perpustakaan setempat, sudah menembus 27 meter.

Menurut sejumlah saksi di lapangan, tim teknis juga masih aktif melakukan survei geolistrik di sejumlah desa lainnya. Tujuannya jelas: memastikan titik pengeboran tepat sasaran agar sumber air yang ditemukan benar-benar optimal. Desa-desa di Kecamatan Wih Pesam, Bener Kelipah, Permata, dan Bandar menjadi fokus kajian saat ini.

Upaya ini, meski terlihat teknis, punya dampak yang sangat manusiawi. Setiap meter pengeboran yang berhasil, berarti satu langkah lebih dekat untuk mengembalikan denyut kehidupan normal bagi warga Aceh yang terdampak.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar