Transaksi non-tunai memang praktis, tapi kita semua tahu risikonya juga makin berkembang. Itulah pesan inti yang disampaikan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) belakangan ini. Bank pelat merah itu mengajak masyarakat untuk terus waspada, jangan sampai lengah dengan modus penipuan yang mengincar data pribadi dan perbankan, termasuk kartu kredit.
Menurut Corporate Secretary BRI, Dhanny, kesadaran kolektif adalah kunci. "Kartu kredit saat ini menjadi solusi transaksi yang praktis dan fleksibel, baik untuk kebutuhan pembayaran di merchant offline maupun online," ujarnya pada Kamis (8/1/2025).
"Namun, kemudahan tersebut perlu diimbangi dengan kesadaran nasabah dalam menjaga keamanan data pribadi dan kartu kredit agar terhindar dari risiko penyalahgunaan," tambah Dhanny.
Modusnya beragam. Mulai dari phishing, skimming, sampai social engineering. Intinya sama: mengelabui nasabah untuk mendapatkan data rahasia. Untuk itu, BRI menegaskan satu hal penting.
Bank ini tidak pernah meminta data rahasia seperti CVV atau OTP melalui telepon, SMS, atau email. Poin ini harus diingat betul. Jangan pernah sekalipun memberikan tiga digit angka di belakang kartu atau kode OTP kepada siapapun yang mengaku dari BRI.
Di sisi lain, BRI sendiri mengklaim terus memperkuat sistem keamanannya. Mereka punya beberapa lapisan. Misalnya, validasi data saat aktivasi kartu, notifikasi transaksi real-time ke email atau ponsel nasabah, dan penggunaan PIN untuk transaksi di mesin EDC. Belakangan, mereka juga sudah melengkapi kartu kreditnya dengan verifikasi PIN enam digit di merchant yang mendukung, sebagai tambahan perlindungan.
Artikel Terkait
ADB Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Capai 5,2% pada 2026-2027
Trump Tuduh Iran Langgar Kesepakatan Damai di Selat Hormuz
BTN dan KAI Garap Hunian Vertikal Terintegrasi Stasiun di Jakarta
BTN Targetkan Kapasitas KPR Meningkat Hingga 400.000 Unit per Tahun