Padahal, dalam tradisi Islam sendiri, persoalan ini justru ditegaskan dengan keras. Al-Quran secara gamblang mengecam ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan.
Ini bukan sekadar nasihat biasa. Ini teguran langsung, dengan bahasa yang tegas dan tanpa ambiguitas. Ayat itu menunjukkan dengan jelas bahwa integritas personal bukanlah aksesori tambahan. Ia adalah inti dari pesan itu sendiri. Dalam konteks ini, siapa yang berbicara menjadi relevan bahkan krusial.
Bukan untuk menolak kebenaran sebuah pesan, tapi untuk menilai kelayakan moral si penyampai. Sebab, pesan yang benar di tangan orang yang salah bisa berubah fungsi: dari pencerahan menjadi alat manipulasi belaka.
Tentu, ini bukan berarti kita harus menutup telinga terhadap kebenaran hanya karena disampaikan oleh orang yang bermasalah. Hidup ini tidak hitam-putih begitu. Tapi membedakan antara "kebenaran pesan" dan "otoritas moral pembicara" itu wajib. Kita bisa saja mengambil ilmunya, tapi tetap berhak bahkan berkewajiban mengkritik kemunafikan si pembicara.
Menormalisasi ketidakkonsistenan dengan dalih "yang penting pesannya bagus" adalah bentuk kemalasan berpikir. Titik.
Pada akhirnya, masyarakat yang sehat butuh lebih dari sekadar kata-kata indah. Mereka butuh keteladanan. Ucapan dan perbuatan harus saling menguatkan, bukan saling meniadakan. Kalau tidak, yang kita bangun adalah budaya yang memuja retorika sambil memaafkan kebohongan. Dan itu, dalam ukuran moral apa pun, adalah sebuah kekalahan yang memilukan.
Artikel Terkait
Dua Tahun Lagi, Indonesia Targetkan Produksi Sendiri BBM Oktan Tinggi
Dosen Hilang, Nilai Datang: Ironi Pendidikan di Balik Feed Medsos
Air Bersih Mengalir Kembali, Pengeboran Sumur Genjot Pemulihan Aceh Pascabencana
Dari Piring Sekolah, Kadin Lihat Geliat Ekonomi dan Target 8 Persen