Xabi Alonso sudah bukan lagi pelatih Real Madrid. Kabar resmi pemutusan hubungan itu diumumkan oleh klub lewat situs mereka, Selasa dini hari tadi. Semuanya berakhir begitu cepat.
“Real Madrid mengumumkan berdasarkan kesepakatan bersama antara klub dan Xabi Alonso, telah diputuskan untuk mengakhiri masa jabatan sebagai pelatih utama,” begitu bunyi pernyataan singkat dari Santiago Bernabéu.
Keputusan ini, jujur saja, datang di saat yang cukup mengejutkan. Baru sehari sebelumnya, tepatnya Senin dini hari, Madrid harus mengakui keunggulan Barcelona dengan skor 2-3 di final Piala Super Spanyol 2026. Pertandingan sengit di King Abdullah Sports City, Jeddah, itu rupanya menjadi pertanda akhir.
Namun begitu, kalau dilihat dari catatan secara keseluruhan, performa Alonso sebenarnya tidak buruk-buruk amat. Sepanjang musim 2025-2026, ia mencatatkan 24 kemenangan, 4 seri, dan cuma 6 kekalahan dari total 34 laga. Di La Liga, Madrid kokoh di posisi dua dengan 45 poin, selisih empat angka dari Barcelona yang memimpin. Di Liga Champions, mereka juga aman di jalur lolos otomatis babak 16 besar.
Lalu, apa yang salah?
Menurut sejumlah media Spanyol, ada masalah di balik layar. Alonso dikabarkan kurang akur dengan beberapa pilar senior skuad. Salah satu nama yang kerap disebut berselisih dengannya adalah bintang sayap, Vinicius Jr. Dinamika ruang ganti yang rumit ini diduga menjadi faktor penentu, melebihi sekadar hasil di lapangan hijau.
Di sisi lain, manajemen Madrid bergerak sangat gesit. Mereka tak butuh waktu lama untuk mencari pengganti.
Pilihannya jatuh pada Alvaro Arbeloa, sosok yang tak asing bagi keluarga besar Los Blancos. Saat ini, Arbeloa memang sedang menangani tim cadangan, Real Madrid Castilla.
“Real Madrid mengumumkan Arbeloa akan menjadi pelatih baru di tim utama. Ia melatih Real Madrid Castilla sejak Juni 2025 dan telah menghabiskan seluruh karier kepelatihannya di akademi Real Madrid sejak 2020,” demikian klub mengonfirmasi.
Sebagai mantan pemain, reputasi Arbeloa mentereng. Ia bagian dari skuad Spanyol yang juara Piala Dunia 2010 dan Euro 2012. Tapi track record kepelatihannya masih seputar tim muda. Prestasi puncaknya adalah membawa Real Madrid U-19 meraih treble winner (Liga, Copa del Rey, dan Liga Champions) pada musim 2022-2023.
Kini, tantangannya jauh lebih berat. Pertanyaannya, bisakah Arbeloa mengulangi kesuksesan itu di tingkat elite? Waktu yang akan menjawab.
Artikel Terkait
BNI Pastikan Pengembalian Dana Rp28 Miliar Paroki Aek Nabara Rampung Pekan Ini
Meta Bersiap PHK Ribuan Karyawan, Didorong Investasi Besar-besaran di AI
Pupuk Indonesia Tegaskan Prioritas Pasokan Domestik Sebelum Ekspor Urea
Infrastruktur Utama Pulau Sumeta Pulih, Fokus Beralih ke Aceh