Di sisi lain, inovasi ini juga membuka peluang baru. Minyak residu yang dulu sulit diolah, kini bisa diubah jadi produk bernilai tinggi seperti nafta dan propylene. Hal ini tak cuma meningkatkan nilai ekonomi kilang, tapi juga memperluas peran Kilang Balikpapan dalam rantai industri energi dan petrokimia nasional.
Baron menegaskan, kehadiran RFCC Complex lebih dari sekadar pembaruan teknologi.
Sebagai perusahaan yang mengusung transisi energi, Pertamina berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060. Seluruh upaya modernisasi ini, kata mereka, sejalan dengan transformasi korporat yang berorientasi pada tata kelola baik, pelayanan publik, serta prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di semua lini bisnisnya.
(Febrina Ratna Iskana)
Artikel Terkait
Prabowo Pimpin Rapat Malam, Pacu Industri Tekstil hingga Semikonduktor
VinFast Serobot Peringkat Lima, Dominasi Jepang di Pasar Mobil RI Mulai Tergoyahkan?
Kampung Haji Indonesia di Makkah Tertunda, Baru Bisa Digunakan 2027
30 Ribu Hektare Tambak Aceh Hancur Diterjang Banjir, Puluhan Ribu Pembudidaya Terpukul