Rio Tinto dan Glencore Gelar Pembicaraan Merger, Bakal Lahirkan Raksasa Tambang Terbesar Dunia

- Minggu, 11 Januari 2026 | 08:35 WIB
Rio Tinto dan Glencore Gelar Pembicaraan Merger, Bakal Lahirkan Raksasa Tambang Terbesar Dunia

Pembicaraan besar-besaran kembali bergulir di dunia pertambangan global. Rio Tinto Group, raksasa tambang asal Australia-Inggris, dikabarkan kembali membuka negosiasi untuk membeli Glencore Plc. Kalau jadi, merger ini bakal melahirkan perusahaan tambang terbesar di planet ini, dengan nilai pasar yang fantastis.

Menurut laporan Bloomberg yang dirilis Jumat (9/1/2026), nilai gabungan keduanya bisa mencapai sekitar 200 miliar dolar AS. Angka itu setara dengan Rp3.500 triliun jumlah yang sulit dibayangkan. Ini bukan kali pertama mereka bicara. Sekitar setahun lalu, Rio Tinto sudah pernah menjajaki akuisisi, tapi percakapan itu mentah di tengah jalan.

Kedua perusahaan, dalam pernyataan terpisah pada Kamis, mengonfirmasi hal ini.

"Kedua perusahaan tengah membahas potensi penggabungan sebagian atau seluruh bisnis mereka," begitu bunyi pernyataan mereka.

Kalau akhirnya bersatu, ini akan jadi kesepakatan terbesar sepanjang sejarah industri tambang. Memang, belakangan tren merger dan akuisisi di sektor ini sedang panas. Glencore dan Rio Tinto punya kesamaan: aset tembaga mereka sangat besar. Gabungan keduanya akan melahirkan raksasa baru yang bisa langsung menantang dominasi BHP Group, yang selama ini jadi penambang nomor satu.

Dari sisi angka, Rio Tinto lebih besar dengan kapitalisasi pasar sekitar USD137 miliar. Sementara Glencore bernilai sekitar USD70 miliar.

Namun begitu, jalan menuju merger pasti tak akan mulus. Ada beberapa ganjalan serius. Yang paling mencolok adalah soal batu bara. Glencore masih jadi salah satu produsen batu bara terbesar dunia, sementara Rio Tinto sudah lama hengkang dari bisnis itu. Budaya perusahaan keduanya juga dikatakan sangat berbeda, yang bisa jadi batu sandungan lain.

Percakapan mereka di tahun 2024 lalu akhirnya buntu, terutama karena gagal sepakat soal harga. Apakah kali ini akan berbeda? Semua mata kini tertuju pada ruang rapat di London dan Melbourne.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar