Kalau akhirnya bersatu, ini akan jadi kesepakatan terbesar sepanjang sejarah industri tambang. Memang, belakangan tren merger dan akuisisi di sektor ini sedang panas. Glencore dan Rio Tinto punya kesamaan: aset tembaga mereka sangat besar. Gabungan keduanya akan melahirkan raksasa baru yang bisa langsung menantang dominasi BHP Group, yang selama ini jadi penambang nomor satu.
Dari sisi angka, Rio Tinto lebih besar dengan kapitalisasi pasar sekitar USD137 miliar. Sementara Glencore bernilai sekitar USD70 miliar.
Namun begitu, jalan menuju merger pasti tak akan mulus. Ada beberapa ganjalan serius. Yang paling mencolok adalah soal batu bara. Glencore masih jadi salah satu produsen batu bara terbesar dunia, sementara Rio Tinto sudah lama hengkang dari bisnis itu. Budaya perusahaan keduanya juga dikatakan sangat berbeda, yang bisa jadi batu sandungan lain.
Percakapan mereka di tahun 2024 lalu akhirnya buntu, terutama karena gagal sepakat soal harga. Apakah kali ini akan berbeda? Semua mata kini tertuju pada ruang rapat di London dan Melbourne.
Artikel Terkait
Intelijen Korsel: Kim Jong Un Beri Jabatan Strategis Rudal kepada Putrinya yang Berusia 13 Tahun
Wamen Investasi: Perizinan Berbelit Sebabkan Indonesia Kehilangan Potensi Investasi Rp1.500 Triliun
Mendag Targetkan Transaksi TEI 2026 Capai USD 17,5 Miliar
Imsak Jakarta Jumat 27 Februari 2025 Pukul 04.33 WIB