Pasar minyak dunia kembali berayun-ayun. Pada Kamis kemarin, harga akhirnya ditutup melemah setelah sesi yang benar-benar bergejolak. Investor tampaknya masih sibuk mencermati setiap perkembangan dari meja perundingan AS dan Iran, yang lagi-lagi membahas program nuklir Tehran.
Kalau ketegangan memanas, pasokan bisa terganggu. Itu yang jadi pertimbangan utama.
Di akhir perdagangan, kontrak berjangka Brent tercatat turun tipis 0,14 persen, berada di level USD70,75 per barel. Sementara minyak acuan AS, WTI, melemah sedikit lebih dalam, 0,32 persen, menjadi USD65,21 per barel.
Pergerakannya sendiri cukup ekstrem sepanjang hari. Harga sempat melonjak lebih dari satu dolar per barel. Lonjakan itu terjadi setelah beberapa media melaporkan perundingan menemui jalan buntu. AS disebut mendesak Iran untuk menghentikan seluruh pengayaan uranium, plus mengirimkan stok uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen itu ke Amerika.
Namun begitu, kenaikan itu tak bertahan lama.
“Harga kemudian ambles lagi setelah kedua belah pihak sepakat untuk melanjutkan pembicaraan hingga pekan depan,” jelas Janiv Shah, Wakil Presiden Analis Minyak di Rystad Energy.
“Kesepakatan untuk tetap berunding itu mengurangi kemungkinan serangan militer dalam waktu dekat. Jadi sentimennya mereda,” tambahnya.
Perbincangan tidak langsung di Jenewa itu sendiri digelar untuk membahas sengketa nuklir yang sudah berlarut-larut. Tujuannya jelas: menghindari konflik terbuka, terutama setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan peningkatan kehadiran militer di kawasan Timur Tengah.
Menariknya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyebut pertemuan Kamis itu sebagai yang paling serius sejauh ini.
Artikel Terkait
Blue Bird Siapkan 25.000 Armada Taksi Hadapi Lonjakan Mudik Lebaran 2026
Laba Bersih United Tractors Turun 24% pada 2025
Nvidia Anjlok 5,5% Meski Laporan Kuartalan Solid, Seret Saham Teknologi Lain
Emas Menguat Tipis, Pasar Awasi Ketat Perundingan AS-Iran di Jenewa