Kilang Balikpapan Berbenah: Rp 123 Triliun untuk Fondasi Energi Nasional

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 14:50 WIB
Kilang Balikpapan Berbenah: Rp 123 Triliun untuk Fondasi Energi Nasional

Kilang Balikpapan perlahan tapi pasti berubah wajah. Sejak 2019, PT Pertamina memang serius menggarap proyek raksasa di sana, yang dikenal sebagai Refinery Development Master Plan atau RDMP. Ini bukan sekadar renovasi biasa, melainkan langkah strategis untuk bikin ketahanan energi nasional benar-benar kuat dan mandiri. Intinya, proyek ini ingin menyambung seluruh rantai, dari saat minyak mentah diturunkan dari kapal, diolah di kilang, sampai akhirnya siap disalurkan.

Dana yang digelontorkan tak main-main: Rp 123 triliun. Tujuannya jelas, memodernisasi kilang yang sudah ada. Hasilnya nanti, kapasitas pengolahan bakal naik signifikan. Bahan bakar minyak yang dihasilkan pun lebih bagus kualitasnya dan tentu saja, lebih ramah lingkungan. Di sisi lain, hilirisasi industri petrokimia juga didorong. Semua itu bermuara pada satu hal: memperkuat pondasi energi Indonesia.

Menurut sejumlah saksi, proyek ini dirancang dalam tiga lingkup besar yang saling terkait. Tujuannya, biar operasional kilang nanti benar-benar siap dan pasokan energi nasional bisa berjalan berkelanjutan.

Lingkup pertama disebut early work. Ini tahap persiapan, mencakup 16 paket pekerjaan. Kegiatannya macam-macam, mulai dari persiapan lahan, pembangunan infrastruktur dasar, sampai penyediaan utilitas sementara dan fasilitas penunjang konstruksi. Tahap ini ibarat fondasi. Kalau fondasinya kuat, tahap konstruksi utama berikutnya bisa berjalan lebih lancar dan aman.

Nah, lingkup kedua baru masuk ke pembangunan intinya. Pertamina membangun dan mengembangkan fasilitas utama kilang yang terdiri dari 39 unit. Rinciannya, 21 unit proses baru dan 13 unit fasilitas utilitas pendukung. Mereka juga tak lupa merevitalisasi 4 unit fasilitas pengolahan yang sudah ada, seperti unit distilasi minyak mentah dan unit hydrocracking.

Revitalisasi dan pembangunan unit baru ini punya target ganda. Selain meningkatkan fleksibilitas dalam mengolah berbagai jenis minyak mentah, juga untuk mendongkrak kualitas produk BBM agar memenuhi standar yang lebih tinggi.

Lingkup ketiga fokus pada infrastruktur penerimaan dan penyaluran. Di sini, dibangun dua tangki penyimpanan raksasa dengan kapasitas masing-masing satu juta barel. Jaringan pipanya juga diperkuat, baik yang di darat (onshore) maupun di laut (offshore), dengan diameter beragam. Fasilitas Single Point Mooring (SPM) pun dibangun, yang mampu menampung kapal tanker hingga 320.000 DWT.

Infrastruktur semacam ini jelas bukan untuk gaya-gayaan. Tujuannya praktis: meningkatkan efisiensi, keamanan, dan keandalan dalam menerima minyak mentah dari kapal-kapal besar.


Halaman:

Komentar