Namun begitu, respons dari pihak yang dituju justru penuh penolakan. Otoritas Greenland dan Denmark sudah berkali-kali menegaskan: pulau mereka bukan barang dagangan. Rencana Trump ini bahkan memicu kritik dari sejumlah pemimpin Eropa. Mereka khawatir, langkah semacam ini bisa merusak kepercayaan antara AS dan Denmark, yang notabene adalah sekutu NATO. Isu ini menjadi sensitif mengingat pakta pertahanan bersama yang mereka miliki.
Kekecewaan itu diungkapkan dengan tegas oleh Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen.
“Ini sudah cukup. Tidak ada lagi tekanan. Tidak ada lagi isyarat. Tidak ada lagi fantasi tentang aneksasi,” tulisnya dalam sebuah unggahan Facebook yang keras.
Dia menegaskan, Greenland akan tetap menjadi bagian dari Denmark.
“Negara kami bukanlah sesuatu yang dapat Anda ingkari atau rebut sesuka hati. Sekali lagi, saya mendesak Amerika Serikat untuk mencari dialog yang saling menghormati melalui saluran diplomatik dan politik yang tepat,” tegas Nielsen.
Jelas sekali, meski iming-iming uangnya besar, jalan untuk mewujudkan fantasi geopolitik Trump ini masih sangat panjang dan berbatu. Greenland punya suaranya sendiri, dan sejauh ini, suara itu mengatakan "tidak".
Artikel Terkait
Anggaran Aceh Tak Dipangkas, Prabowo Beri Lampu Hijau di Tengah Bencana
Medvedev Peringatkan Eropa dengan Video Serangan Rudal Hipersonik ke Ukraina
Waspada! Link Pendaftaran BSU 2026 Ternyata Hoaks, Kemnaker Tegaskan Belum Ada Kebijakan
Jerman Perketat Hukum untuk Hadang Gelombang Deepfake dan Pelecehan Digital