Nah, faktor kredit juga punya peran besar. Sekitar 65% pembelian motor ternyata dilakukan secara kredit. Artinya, lembaga pembiayaan jadi salah satu pilar penting yang menopang permintaan.
"Tahun lalu diwarnai penurunan daya beli, terutama di masyarakat ekonomi menengah. Mereka memilih membeli sepeda motor untuk menopang kegiatan ekonomi produktif. Hal ini yang membuat pasar tetap tumbuh meski tidak signifikan," papar Sigit lagi.
Di sisi lain, ada pergeseran menarik secara geografis. Permintaan dari luar Pulau Jawa berhasil menyeimbangi penurunan yang terjadi di Jawa. Kenapa? Hasil komoditas di daerah relatif positif. Sementara di Jawa, sektor industri agak lesu, yang berimbas pada daya beli dan bahkan PHK di beberapa tempat.
Tak cuma pasar dalam negeri, ekspor juga memberi angin segar. Sepanjang 2025, anggota AISI berhasil mengirim 544.133 unit motor dalam bentuk utuh (CBU) ke luar negeri. Ekspor dalam bentuk set CKD bahkan jauh lebih besar, mencapai 8,1 juta lebih set. Belum lagi komponen, yang jumlah ekspornya menyentuh angka 138 juta unit. Jadi, secara keseluruhan, industri roda dua ini masih bergerak, meski langkahnya tak terlalu cepat.
Artikel Terkait
Mensos Salurkan Bantuan Tahap Kedua Rp76,68 Miliar untuk Korban Bencana Aceh Tamiang
KPK Tangkap Bupati Tulungagung, Sita Uang Ratusan Juta Rupiah
KAI Catat 128 Juta Penumpang pada Triwulan I 2026, Naik 10%
Legenda Persija dan Timnas Indonesia, Sutan Harhara, Tutup Usia