Tapi yang jadi andalan ya rujak berbahan rumput laut. Ada beberapa jenis: bulung boni, bulung putih, dan bulung hijau. Saat itu saya memesan rujak bulung boni dengan kuah pindang.
Saat disajikan, tampilannya sederhana saja. Kuah pindang yang dicampur terasi warnanya kemerahan, ditaburi bulung boni yang bentuknya mirip sekumpulan anggur hijau kecil.
Sensasi saat menyantapnya benar-benar lain. Gigitan pertama langsung terasa kriuk-kriuknya, terus meletup di mulut persis seperti makan boba. Teksturnya sedikit licin dan berlendir, tapi anehnya nggak bikin enek. Cukup nyaman di lidah.
Sementara itu, kuahnya bercita rasa kompleks. Paduan kuah pindang ikan dan terasi menghasilkan rasa gurih, asin, dan sedikit aroma amis yang khas. Ditambah pedasnya cabai rawit, jadilah kombinasi yang unik sekaligus menantang. Tapi, rasa laut yang kuat ini mungkin nggak akan cocok untuk semua orang.
Soal harga, ternyata terjangkau banget. Cuma Rp 15 ribuan per porsi. Selain kuah pindang, kamu bisa pilih varian lain seperti rujak bulung boni gula pasir atau gula khas Bali.
Gimana, penasaran mau coba?
Artikel Terkait
Prasetyo Hadi Tegaskan Anggaran Rp60 Triliun untuk Pascabencana Bukan Anggaran Mati
Bencana November 2025: 25 Desa di Aceh dan Sumut Terhapus dari Peta
Satgas Beri Peringatan Terakhir ke 20 Perusahaan Sawit dan Tambang Penunggak Denda
Target 82,9 Juta Penerima: Program Makan Bergizi Gratis Pacu Kualitas Jelang 2026