Kalau ke Bali, jangan cuma pikiran soal pantai atau kuil. Coba cari warung yang jual rujak bulung boni. Ini salah satu kuliner khas pulau dewata yang bahannya nggak biasa: rumput laut. Teksturnya unik banget, kriuk-kriuk kayak "boba" alami yang langsung dari laut.
Nama "bulung boni" sendiri punya arti khusus. Menurut catatan Seaweed Network, dalam bahasa Bali, "bulung" itu artinya rumput laut. Sementara "boni" ngacu pada bentuknya yang mirip buah buni bulat kecil-kecil dan kenyal kalau digigit.
Makanan tradisional ini paling mudah ditemui di daerah pesisir, kayak Denpasar atau Sanur. Maklum, di sanalah rumput laut segar banyak tersedia. Dari bahan itu, warga lokal kemudian berkreasi menjadikannya rujak yang menyegarkan.
Menariknya, tiap daerah di Bali punya versi rujak bulung boninya sendiri-sendiri. Kudapan ini dipercaya sudah ada sejak lama, tumbuh dari kebiasaan masyarakat pesisir yang memang akrab memanfaatkan hasil laut untuk dikonsumsi.
Kebetulan, beberapa waktu lalu saya berkesempatan mencicipinya langsung. Perlu diingat, rumput laut ini bahan musiman. Nggak sepanjang tahun ada. Jadi, pas lagi musimnya, saya langsung meluncur ke sebuah warung rujak di kawasan Kerobokan.
Warungnya bernama Rujak Wareg, menyediakan aneka rujak khas Bali. Bahannya lengkap, mulai dari buah-buahan umum kayak mangga, jambu, sampai pepaya. Mereka juga punya yang langka-langka, semacam juwet, buni, bahkan rambutan dan jeruk Bali.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan Pemotongan Gaji Pejabat Masih Wacana, Belum Diputuskan
Bank Indonesia Siap Setor Sisa Surplus Rp40 Triliun ke Pemerintah
Said Didu Klarifikasi Polemik EO Sarang Korupsi: Targetnya Oknum Pejabat, Bukan Pelaku Profesional
SKK Migas Targetkan Dua Pabrik LPG Baru Beroperasi April Ini