Pasca bencana yang melanda Aceh, upaya pemulihan terus digenjot. Salah satu fokusnya adalah memastikan pasokan energi, terutama gas LPG, bisa sampai ke tangan masyarakat. Nah, PT Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) punya laporan perkembangan terbaru soal ini.
Di Banda Aceh, jumlah pasokan LPG, termasuk yang bersubsidi 3 kg, sudah mulai meningkat. Faktanya, penyaluran LPG Subsidi di ibukota provinsi itu sekarang mencapai 20 metrik ton per hari. Angka itu lebih tinggi dari rata-rata normal sebelumnya.
Kalau dilihat secara lebih luas, peningkatannya cukup signifikan. Fahrougi Andriani Sumampouw, selaku Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, memaparkan datanya.
"Prioritas Pertamina saat ini adalah memastikan bahwa energi dan bantuan kemanusiaan hadir tepat waktu, tepat sasaran dan mengutamakan aspek keselamatan," ungkapnya.
Secara total di Aceh, rata-rata penyaluran LPG Subsidi per hari biasanya sekitar 261 MT. Namun di masa darurat ini, angka itu melonjak hingga 366 MT per hari untuk 22 kota dan kabupaten. Artinya, ada kenaikan sekitar 40 persen. LPG jenis non-subsidi, seperti tabung 12 kg, juga mengalami peningkatan yang kurang lebih sama besarnya.
Menurut Fahrougi, lonjakan volume ini adalah bentuk komitmen Pertamina. Tujuannya jelas: menjaga pasokan kebutuhan pokok masyarakat dan mempercepat pemulihan distribusi. Tapi jalan yang ditempuh tidak mudah.
Kendala utama justru bukan pada stok, yang katanya masih terjaga baik, melainkan pada proses mendistribusikannya. Banyak wilayah yang sulit diakses karena jalan rusak atau jembatan putus. Untuk mengakalinya, Pertamina memakai segala cara; lewat darat, laut, bahkan udara, plus membuka jalur-jalur alternatif.
Mereka juga turun langsung ke lapangan dengan menggelar Operasi Pasar di beberapa titik. Harapannya, langkah ini bisa menjangkau masyarakat yang terdampak parah dan meratakan pasokan.
"Kami berharap dengan adanya Operasi Pasar ini, dapat meredakan panic buying di masyarakat, serta mencegah spekulan yang memanfaatkan momentum kritis ini dengan cara yang tidak baik," jelas Fahrougi.
Di sisi lain, pengawasan distribusi, khususnya untuk LPG Subsidi 3 kg, diperketat. Pertamina menggandeng pemerintah daerah, TNI, Polri, dan aparat terkait lainnya. Tujuannya untuk mencegah penyalahgunaan barang subsidi yang sangat vital bagi masyarakat kecil ini.
Fahrougi juga menyampaikan apresiasi. "Kami berterima kasih kepada Pemerintah setempat, TNI/POLRI dan aparat penegak hukum, Bakom RI, Media, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan yang telah mendukung Pertamina."
Terakhir, ia mengimbau partisipasi publik. Jika masyarakat menemukan indikasi penyalahgunaan LPG 3 kg, bisa melapor ke Pertamina Contact Centre 135.
"Laporan masyarakat akan ditindaklanjuti dan bersama-sama melindungi kebutuhan saudara-saudara kita semua," tutupnya.
Shifa Nurhaliza Putri
Artikel Terkait
Defisit APBN Tercatat Rp240,1 Triliun per Maret 2026, Pemerintah Klaim Masih Terkendali
Uni Eropa Longgarkan Aturan AI demi Daya Saing, Tetap Pertahankan Regulasi Paling Ketat di Dunia
Ratusan Buruh KSPI dan Partai Buruh Demo di Depan Kemnaker, Tuntut Pencabutan Permenaker Nomor 7 Tahun 2026
Bea Cukai Buka Suara soal Nama Dirjen Djaka Budi Utama Muncul di Dakwaan Suap KPK