Direktur Jenderal CAAS, Han Kok Juan, memberikan penjelasan.
“Mekanisme ini memastikan bahwa seluruh pengguna layanan penerbangan ikut berperan dalam upaya keberlanjutan. Namun tetap dalam batas biaya yang dianggap terjangkau bagi industri, pelaku bisnis, dan publik,” ujarnya.
“Kita harus mulai dari suatu titik, kami melakukannya dengan cara yang terukur, memberi waktu bagi industri dan masyarakat untuk menyesuaikan diri,” tambah Han.
Kebijakan ini ramai dibicarakan tepat saat dunia sedang sibuk membahas masa depan iklim di forum seperti COP30. Di sisi lain, sejumlah negara seperti Prancis, Spanyol, dan Kenya mendorong agar penumpang kelas premium dikenakan tarif yang lebih tinggi. Alasannya, dana yang terkumpul dari mereka bisa lebih besar dan dialokasikan untuk investasi proyek-proyek hijau.
Jadi, bersiaplah. Bepergian lewat udara dari Singapura dua tahun lagi akan sedikit berbeda dengan catatan tambahan di tiket yang mengingatkan kita semua tentang jejak karbon perjalanan.
Artikel Terkait
IRGC Ancam Blokade Total Selat Hormuz, Harga Minyak Bisa Tembus USD 200 per Barel
Bank BJB Dorong Ekonomi Regional Lewat Event Lari 4 Kota di Jawa
Saudi Aramco Catat Laba Bersih USD 104,7 Miliar pada 2025, Lampaui Proyeksi Analis
Lebaran 2026: Lebih dari 2,5 Juta Tiket Kereta Api Terjual, Masih Tersedia 1,9 Juta Kursi