Kondisi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat benar-benar memprihatinkan. Banjir dan tanah longsor telah memasuki fase kritis. Jalan-jalan putus, komunikasi macet total, dan bantuan makanan masih sulit menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Warga yang bertahan di lokasi bencana, menurut sejumlah laporan, hidup dalam bayang-bayang bahaya yang mengintai setiap saat.
Menanggapi situasi ini, ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi punya pandangan tegas. Menurutnya, prioritas nomor satu sekarang bukan lagi sekadar mengirimkan bantuan logistik secara parsial.
"Dalam situasi seperti ini, menunggu di lokasi berbahaya berarti menunda bahaya yang bisa datang kapan saja," tulis Syafruddin dalam keterangannya, Minggu (7/12/2025).
Dia menegaskan, kunci awal untuk pemulihan termasuk pemulihan ekonomi justru terletak pada pembangunan tempat penampungan sementara di zona yang benar-benar aman. Strategi lama mengandalkan helikopter atau perahu untuk menyuplai desa-desa terisolir dinilai sudah tidak efektif. Yang diperlukan adalah langkah berani: memindahkan warga secara total ke lokasi yang lebih terjamin.
Pemerintah, kata Syafruddin, wajib buru-buru menetapkan titik-titik aman. Lokasinya harus bebas dari ancaman lanjutan, terhubung dengan jalan utama, dan mudah diakses oleh pasokan logistik serta tim medis. Penampungannya sendiri tidak boleh asal jadi. Harus memenuhi standar layak: air bersih dan sanitasi yang memadai, ruang untuk keluarga, ditambah posko kesehatan dan ruang belajar darurat bagi anak-anak.
Dia menggarisbawahi satu hal. Evakuasi total dari desa berisiko tinggi ini adalah prasyarat mutlak. Hanya dengan begitu tahap pemulihan yang lebih luas bisa dimulai.
"Tahap berikutnya rekonstruksi, pemulihan ekonomi, dan penataan ulang permukiman yang lebih tahan bencana," tuturnya.
Di lokasi penampungan yang aman, segala sesuatu bisa diatur secara lebih sistematis. Distribusi bantuan, layanan kesehatan, hingga pendataan korban akan berjalan lebih terkendali. Barulah setelah kondisi stabil, pembicaraan soal pemulihan ekonomi dan pembangunan kembali bisa benar-benar dilakukan.
Data terbaru dari BNPB per 6 Desember 2025 menggambarkan betapa parahnya situasi ini. Korban tewas di Sumatera telah mencapai 914 orang. Sementara 388 jiwa masih dinyatakan hilang, dan pengungsi yang tercatat tidak kurang dari 849.133 orang. Angka-angka itu sendiri sudah bicara banyak.
Artikel Terkait
Menaker Terbitkan Aturan Baru, Hanya Enam Bidang Pekerjaan yang Boleh Gunakan Sistem Outsourcing
Kementerian Perdagangan Siap Sesuaikan HET Minyakita, Harga di Pasaran Tembus Rp19.000 per Liter
Penataan Jalan HR Rasuna Said Dikebut, Ditargetkan Rampung Sebelum HUT Jakarta 2026
Konflik Timur Tengah Ancam Investasi Raksasa AI Senilai Rp10.800 Triliun