Dia menggarisbawahi satu hal. Evakuasi total dari desa berisiko tinggi ini adalah prasyarat mutlak. Hanya dengan begitu tahap pemulihan yang lebih luas bisa dimulai.
"Tahap berikutnya rekonstruksi, pemulihan ekonomi, dan penataan ulang permukiman yang lebih tahan bencana," tuturnya.
Di lokasi penampungan yang aman, segala sesuatu bisa diatur secara lebih sistematis. Distribusi bantuan, layanan kesehatan, hingga pendataan korban akan berjalan lebih terkendali. Barulah setelah kondisi stabil, pembicaraan soal pemulihan ekonomi dan pembangunan kembali bisa benar-benar dilakukan.
Data terbaru dari BNPB per 6 Desember 2025 menggambarkan betapa parahnya situasi ini. Korban tewas di Sumatera telah mencapai 914 orang. Sementara 388 jiwa masih dinyatakan hilang, dan pengungsi yang tercatat tidak kurang dari 849.133 orang. Angka-angka itu sendiri sudah bicara banyak.
Artikel Terkait
Mentan Zulhas Pastikan Konflik Timur Tengah Tak Pengaruhi Ketahanan Pangan Nasional
Laba Bersih Bank Jago Melonjak 114% pada 2025, Didorong Pertumbuhan Nasabah
RUU Hak Cipta Usulkan Karya Jurnalistik Dilindungi Hak Eksklusif dan Royalti
Pemerintah Rencanakan Pagar Raksasa untuk Atasi Konflik Gajah-Manusia di Way Kambas