Lucunya, setelah setahun berlalu, si magnet daun itu biasanya dicopot. Masa 'magang' di jalan raya dianggap selesai.
"Kalau sudah setahun itu dilepas, dan itu magnet jadi bisa dicopot kapan saja," tambah Stefani.
Tapi ceritanya tidak berhenti di sana. Dalam perkembangannya, si daun hijau-kuning ini malah jadi semacam ikon budaya. Banyak yang sudah jago nyetir justru tetap memasang versi stiker yang lebih lucu atau keren. Mungkin sebagai gaya-gayaan, atau sekadar nostalgia mengingat masa-masa awal mereka belajar bawa mobil.
Pada akhirnya, aturan detail seperti ini menunjukkan sesuatu yang lebih dalam. Keselamatan berlalu lintas di Jepang bukan cuma soal mentaati rambu. Lebih dari itu, ini tentang membangun kesadaran bersama. Semua pengguna jalan diajak untuk saling aware dan menghargai. Sebuah sistem yang mengandalkan kolektivitas, bukan sekadar individualitas di balik kemudi.
Artikel Terkait
BI Proyeksikan Kredit Tumbuh 8-12% di 2026, Tapi Dana Rp2.439 T Masih Menganggur
Kuntilanak dan Pocong: Ketika Mistis Nusantara Hanya Jadi Mesin Cuan di Layar Lebar
Remaja 17 Tahun Tewas Usai Terjatuh dari Peron Stasiun Gondangdia
Petunjuk Kuat Shayne Pattynama Segera Gabung Persija, Ikuti Tren Pemain Timnas Pulang Kampung