Dwelling Time Pelabuhan Indonesia Sentuh 2,47 Hari, Efisiensi Logistik Terus Meroket

- Jumat, 05 Desember 2025 | 01:35 WIB
Dwelling Time Pelabuhan Indonesia Sentuh 2,47 Hari, Efisiensi Logistik Terus Meroket

Ada kabar bagus dari dunia logistik nasional. Sepanjang 2025, waktu tunggu kontainer di pelabuhan kita atau yang biasa disebut dwelling time ternyata menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan. Lembaga National Single Window (LNSW) Kementerian Keuangan mencatat, angka rata-ratanya pada Oktober lalu berhasil mencapai 2,47 hari. Kalau dibandingin sama kondisi di 2019 yang masih 3,16 hari, progresnya jelas terlihat.

“Nah, kalau terkait dengan capaian untuk tahun 2025 ini terkait dengan dwelling time, kita bisa lihat bahwa sampai dengan, untuk bulan Oktober tahun 2025, itu angka dwelling kita 2,47,” ujar Kepala LNSW Oza Olavia.

Dia menambahkan, “Tapi memang secara agregat sampai dengan Oktober tahun 2025, itu 2,93 hari.”

Pernyataan itu disampaikan Oza dalam Media Gathering LNSW di Jakarta, Kamis (4/12/2025). Menurutnya, capaian ini bukan hasil kerja satu lembaga saja. Perbaikan efisiensi ini dipengaruhi sinergi banyak pihak.

“Jadi ini sangat dipengaruhi banyak hal ya, karena ini di sini berperang hampir banyak sekali Kementerian/Lembaga yang terkait,” kata dia.

Upaya integrasi sistem memang digenjot habis-habisan. Sampai tahun ini, Sistem Indonesia National Single Window (SINSW) sudah berhasil menyatukan sistem dari 29 Kementerian dan Lembaga. Ini mencakup arus dokumen dan juga arus barang. Hasilnya? Sebuah ekosistem logistik nasional atau NLE yang makin solid.

Di sisi lain, peran LNSW ternyata nggak cuma di dalam negeri. Lembaga ini juga jadi penghubung utama Indonesia dengan mitra dagang di luar. Untuk kawasan regional, ada ASEAN Single Window Gateway yang mempermudah pertukaran dokumen seperti sertifikat asal barang. Sementara, untuk kerja sama bilateral misalnya dengan China, Jepang, Korea Selatan, dan Australia Indonesia punya gateway mandiri sendiri.

Soal implementasi NLE sendiri terus meluas. Saat ini, sistem tersebut sudah diterapkan di 63 pelabuhan dan 7 bandara. Efeknya nyata. Menurut sebuah survei pada 2024, layanan Single Submission untuk perizinan bisa menghemat waktu hingga 66,5 persen dan memotong biaya sampai 63,39 persen. Angka yang cukup fantastis.

Selain fokus di logistik, LNSW juga mengembangkan sistem untuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Sistem ini rupanya sudah dipakai oleh 458 badan usaha. Dampaknya, penyerapan tenaga kerja melonjak ke angka 259,7 ribu orang. Realisasi investasinya pun gila-gilaan: Rp33,6 triliun dari badan usaha dan Rp278,9 triliun dari pelaku usaha.

Bidang lain yang tak kalah penting adalah pengawasan komoditas. Sistem Nasional Neraca Komoditas kini sudah menjangkau delapan komoditas pangan dan sebelas komoditas migas. Sepanjang 2025, dokumen neraca yang diajukan mencapai 5.323.

Oza Olavia menegaskan, di balik semua digitalisasi ini, ada kontribusi tidak langsung bagi penerimaan negara.

“Peran kita salah satunya mendukung sektor penerimaan, di mana LNSW tidak secara direct mengumpulkan penerimaan, tapi kegiatan yang dilakukan LNSW kita lakukan upaya-upaya terkait kegiatan dokumentasi kepabeanan, kekarantinaan, perizinan, kepelabuhanan, dan kebandarudaraan untuk mendukung penerimaan,” jelasnya.

Jadi, ceritanya nggak cuma soal kontainer yang lebih cepat keluar-masuk pelabuhan. Tapi juga tentang bagaimana seluruh mata rantai logistik dan ekonomi didigitalisasi untuk gerak yang lebih lincah. Perlahan, tapi pasti.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar