Asap sudah lama sirna, tapi kepedihan masih menggantung di Tai Po. Dari reruntuhan Wang Fuk Court, muncul cerita pilu yang lebih dari sekadar kecelakaan. Tujuh dari delapan menara apartemen itu rata dengan tanah akibat kebakaran hebat, dan kini penyelidikan mulai mengungkap sesuatu yang menyesakkan: ada permainan nakal di balik proyek renovasi gedung 31 lantai itu.
Inti masalahnya ada pada jaring pengaman yang membungkus gedung. Seharusnya, material itu tahan api. Kenyataannya? Tidak. Jaring yang dipasang ternyata abal-abal, tidak memenuhi standar sama sekali. Akibatnya, api yang awalnya mungkin bisa dikendalikan, justru merambat dengan ganas ke seluruh lantai dan bahkan meloncat ke menara sebelah.
Menurut Sekretaris Utama Hong Kong Eric Chan Kwok Ki, ini bukan kesalahan teknis biasa. Ada indikasi kecurangan yang disengaja.
“Sampel yang gagal uji justru ditemukan di spot-spot yang sulit dilihat, tempat yang bahkan sulit dijangkau petugas pemadam,” ujar Chan.
Dia menduga, kontraktor sengaja memotong anggaran dengan cara yang licik. Alih-alih menggunakan jaring tahan api di seluruh bagian, mereka mencampurnya dengan material murah, khususnya di area yang tersembunyi dari pandangan. Dari 20 sampel yang diambil dari empat gedung, tujuh di antaranya terbukti tidak memenuhi standar. Praktik seperti ini jelas mengorbankan keselamatan ratusan jiwa.
Di sisi lain, ada faktor lain yang memperparah bencana: scaffolding bambu. Metode tradisional Hong Kong ini memang umum dipakai, termasuk di proyek renovasi Wang Fuk Court yang dimulai Juli 2024. Sayangnya, dalam situasi kebakaran, bambu kering itu ibarat sumbu raksasa. Ia menjadi jalur cepat bagi api untuk membakar gedung secara vertikal.
Kobaran api yang mulai pada Rabu sore itu butuh waktu 43 jam untuk benar-benar padam. Upaya heroik pemadam kebakaran nyaris tak berarti dihadapi amukan si jago merah yang sudah dapat ‘bahan bakar’ sempurna.
Korban jiwa terus bertambah. Per Senin malam, angka resminya mencapai 151 orang tewas, dengan 79 luka-luka. Data awal yang menyebut 159 orang hilang sempat membuat panik, tapi kemudian direvisi karena dianggap tidak akurat.
Meski begitu, Kepala Unit Penyelidikan Kepolisian Hong Kong, Tsang Shuk Yin, menyatakan bahwa sekitar 40 orang masih benar-benar hilang dan belum ditemukan. Situasi ini mengungkap kekacauan lain: data penghuni di kompleks itu sendiri tidak jelas.
Sampai saat ini, 14 orang yang terlibat dalam proyek renovasi telah ditangkap. Mereka yang diamankan berasal dari berbagai pihak, mulai dari kontraktor utama, konsultan, hingga subkontraktor. Fokus penyidikan adalah dugaan pemasangan material ilegal dan kemungkinan manipulasi dalam proses inspeksi keselamatan.
Penyelidikan tentu belum berakhir. Otoritas masih mendalami apakah ada motif yang lebih gelap di balik tragedi ini, termasuk kemungkinan pelanggaran korporasi atau tindak pidana lainnya. Yang jelas, di balik debu dan besi-besi yang melintir, ada nyawa-nyawa yang melayang akibat permainan yang tak seharusnya dimainkan.
Artikel Terkait
Kemensos Percepat Digitalisasi Bansos, Bentuk Tim Lintas Sektor demi Tepat Sasaran
Unhas Kukuhkan Kembali Prof. Jamaluddin Jompa sebagai Rektor Periode 2026-2030
Superbank Gelar RUPST Perdana Pasca-IPO, Catat Laba Sebelum Pajak Rp143,3 Miliar di 2025
Kementerian PU Targetkan Sekolah Rakyat Kulon Progo Rampung Juni 2026, Tampung 1.080 Siswa