Kemenperin Siapkan Insentif untuk Atasi Serbuan Mobil Listrik Impor

- Senin, 01 Desember 2025 | 17:50 WIB
Kemenperin Siapkan Insentif untuk Atasi Serbuan Mobil Listrik Impor

Pasar mobil di dalam negeri lagi sepi. Itulah realita yang coba diatasi Kementerian Perindustrian dengan mendorong pemberian insentif khusus. Dorongan ini muncul karena penjualan kendaraan roda empat buatan lokal terus merosot, didesak oleh membanjirnya mobil listrik impor yang harganya semakin kompetitif.

Menurut data Kemenperin, sepanjang 2025 penjualan kendaraan listrik (EV) mencapai 69.146 unit. Yang mengkhawatirkan, 73 persen di antaranya adalah produk impor. Artinya, nilai tambah dan penyerapan tenaga kerjanya justru dinikmati negara lain.

"Harus menjadi indikator pertumbuhan industri otomotif nasional saat ini. Kami memandang bahwa dibutuhkan insentif untuk membalikkan keadaan tersebut,"

kata Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, Senin (1/12/2025).

Di sisi lain, segmen kendaraan konvensional yang diproduksi di sini dan selama ini jadi tulang punggung pasar justru mengalami penurunan penjualan yang cukup signifikan. Febri punya pandangan menarik soal fenomena pameran otomotif yang marak belakangan. Bagi dia, itu bukan tanda industri sedang kuat.

"Banyaknya pameran otomotif di berbagai tempat Indonesia juga bukan ukuran industri otomotif sedang kuat. Sebaliknya, banyak pameran otomotif adalah upaya dan perjuangan industri untuk tetap mempertahankan demand di tengah anjlok penjualan domestiknya dan sekaligus melindungi pekerjanya dari PHK,"

tegasnya.

Intinya, insentif dinilai sebagai instrumen krusial. Bukan cuma untuk memulihkan pasar, tapi juga menjaga napas panjang industri otomotif nasional. Febri menambahkan, kebijakan ini nantinya bakal menguntungkan semua pihak. Bagi konsumen, insentif bisa bikin harga kendaraan lebih terjangkau, memperbaiki sentimen pasar, dan menjaga daya beli.

Walaupun bentuk dan rincian insentifnya belum dirumuskan, arahnya sudah jelas. Stimulus akan diutamakan untuk segmen menengah ke bawah dan mempertimbangkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Data terbaru dari Ditjen ILMATE memperkuat kegelisahan itu. Dari Januari hingga Oktober 2025, penjualan "wholesales" kendaraan bermotor cuma 635.844 unit. Angka itu turun 10,6% dibanding periode sama tahun lalu. Produksinya juga ikut merosot, jadi 957.293 unit dari sebelumnya 996.741 unit di 2024.

Jadi, situasinya memang cukup pelik. Industri butuh suntikan, pasar butuh stimulan, sementara mobil listrik impor terus mendesak dari segala penjuru.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar