Tak berhenti di situ, dalam dua tahun terakhir BNI juga aktif menjadi pelopor dengan menerbitkan Sustainability Bond. Dana yang dihimpun dari obligasi ini dialokasikan secara khusus untuk proyek-proyek yang dampaknya langsung terasa bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
Di sisi lain, strategi ESG ini ternyata tak hanya bagus untuk citra. Fundamental bisnis BNI pun ikut menguat. Hingga akhir kuartal ketiga 2025, laba bersih konsolidasi mereka tercatat mencapai Rp15,12 triliun. Pencapaian ini tentu didukung oleh tata kelola yang prudent dan transformasi berkelanjutan yang mereka jalankan secara konsisten.
“Kami ingin memastikan bahwa kinerja bisnis berjalan beriringan dengan keberlanjutan ekosistem sosial dan lingkungan. Tujuan kami bukan hanya tumbuh lebih besar, tetapi tumbuh lebih bertanggung jawab,” tambah Okki menegaskan.
Ke depan, BNI tak berniat berpuas diri. Mereka berkomitmen untuk terus memperluas dukungan pembiayaan hijau di sektor-sektor prioritas. Transisi operasional menuju emisi rendah juga akan dipercepat. Program pemberdayaan masyarakat yang berbasis lingkungan akan diperluas jangkauannya, agar manfaatnya bisa dirasakan lebih banyak orang, lebih inklusif.
Dengan langkah-langkah konkret ini, BNI semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu penggerak utama keuangan berkelanjutan di Indonesia. Di tengah dinamika global yang menuntut praktik bisnis yang bertanggung jawab, peran mereka dalam menjaga kontribusi positif bagi perekonomian nasional menjadi semakin krusial.
Artikel Terkait
Serangan AS ke Iran Habiskan Rp13 Triliun dalam 24 Jam
IMF Peringatkan Konflik Iran-AS dan Israel Ancam Stabilitas Ekonomi Global
Prabowo Segera Hubungi Pemimpin Teluk Usai Serangan AS-Israel ke Iran
Trump Janjikan Pengawalan Militer AS di Selat Hormuz, Pasar Minyak Masih Skeptis