Harga minyak sempat mereda setelah pengumuman itu keluar. Brent, patokan minyak dunia, bergerak mendekati level 80 dolar AS per barel. Tapi, antusiasme pasar tampaknya cepat pudar. Banyak pedagang yang masih meragukan langkah ini bisa langsung mengembalikan arus ekspor minyak dan gas di Selat Hormuz ke kondisi normal. Mereka skeptis, dan mungkin dengan alasan yang kuat.
Bagaimanapun, lonjakan harga sebelumnya cukup signifikan. Sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran akhir pekan lalu, harga minyak dunia sudah melesat lebih dari 10 persen. Iran tak tinggal diam. Mereka membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan milik AS dan Israel di Timur Tengah. Tak cuma itu, Teheran juga memblokade Selat Hormuz dan bahkan menyerang fasilitas minyak dan gas milik negara tetangganya. Situasinya memang panas.
Di tengah ketegangan itulah, Presiden AS Donald Trump angkat bicara. Lewat sebuah unggahan di media sosial, dia menyatakan bahwa Angkatan Laut AS siap mengawal kapal-kapal yang hendak melintasi Selat Hormuz. “Jika perlu, Angkatan Laut Amerika Serikat akan mulai mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz, sesegera mungkin,” tulis Trump.
Dia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas energi global.
“Apa pun yang terjadi, Amerika Serikat akan memastikan aliran energi yang bebas ke dunia,” ujarnya.
Selat Hormuz bukan jalur sembarangan. Titik sempit di Teluk Persia ini adalah urat nadi energi global. Sekitar seperlima ekspor minyak dan gas dunia harus melewati perairan yang kini diblokade Iran ini. Jadi, wajar kalau gangguan di sana langsung menggoyang pasar. Selain janji pengawalan militer, Washington juga akan memberikan jaminan asuransi untuk kapal-kapal yang berani melintas. Upaya untuk memberi rasa aman, setidaknya di atas kertas.
Namun begitu, para pengamat seperti Bob McNally dari Rapidan Energy Group melihat ada jarak antara pernyataan dan eksekusi. “Pengumuman ini mungkin membantu menenangkan para pedagang,” katanya.
Tapi dia mengingatkan, “pengawalan dan penjaminan asuransi akan membutuhkan waktu untuk diimplementasikan.”
Artinya, ketidakpastian belum benar-benar berakhir. Pasar masih menunggu bukti nyata di lapangan, sambil memantau setiap perkembangan yang bisa datang tiba-tiba dari kawasan yang terus bergejolak ini.
Artikel Terkait
Iran Tutup Kembali Selat Hormuz Menyusul Ancaman Blokade AS dari Trump
JK Jelaskan Alasan Pakai Istilah Syahid dalam Ceramah di Masjid UGM
Iran Buka Kembali Selat Hormuz, Nasib Kapal Tanker Pertamina Mulai Terang
Swasembada Gula 2028 Terhambat Produktivitas Rendah dan Pabrik Tua