Ia juga menyoroti ritual sesajen yang dilakukan saat peletakan batu pertama. Menurutnya, hal itu menjadi indikasi bahwa praktik serupa bisa terulang. “Ini sama saja dengan membangun berhala. Harus dihentikan dan dibatalkan permanen,” tambah Ustaz Hery.
Di sisi lain, Ummu Faqih dari Forum Pergerakan Muslimah Jabar menyampaikan kekhawatiran yang lebih luas. Ia menilai pembangunan patung Bung Karno bisa menjadi preseden buruk. Jawa Barat yang mayoritas Muslim dikhawatirkan akan diikuti pendirian patung-patung lain.
“Kami takut terjadi pengkultusan. Nanti di bawah patung bisa ada yang menabur bunga atau bahkan sesajen seperti di Bali. Ini jelas berbahaya,” ujarnya.
Dalam audiensi tersebut, aliansi akhirnya menyampaikan pernyataan sikap resmi. Poin utamanya: tetap menolak pembangunan monumen patung, dan mendesak Gubernur serta DPRD Jabar menghentikan seluruh proses pembangunan.
Menanggapi hal itu, Acep Jamaludin berjanji akan segera meneruskan masukan tersebut kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
“Ini penting dan harus segera disampaikan. Kalau tidak ada respons dan pembangunan tetap berjalan, aliansi perlu kembali menyuarakan aspirasinya. Kami siap mengawal,” kata Acep.
Pertemuan itu juga dihadiri sejumlah tokoh lain, seperti Ir. H. Luki Sambas, MM dari Sekretaris API Jabar, Drs. Marsa Suraka (Wakil Ketua Bakomubin Jabar), serta perwakilan dari berbagai ormas dan pesantren di Jawa Barat.
Artikel Terkait
Bobotoh Kepincut Kapten Persija, Rizky Ridho Jadi Rebutan Jelang Duel Klasik
OKI Kecam Israel: Pengakuan Somaliland Dinilai Langgar Kedaulatan Somalia
Kekejaman di Clay County: Seorang Pria Tewaskan Enam Orang, Termasuk Anak 7 Tahun
Diskon Pajak Bodong di Jakarta Utara, Skema Korupsi Ternyata Berulang